Kamis, Juli 25, 2024

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...

Ini Kata Abu Razak...

BANDA ACEH – Venue atau tempat pelaksanaan pertandingan 33 cabang olahraga wilayah Aceh...
BerandaTersesat di Rimba,...

Tersesat di Rimba, Kehilangan Pahlawan

Terlepas dari semua pendapat dan kehormatan nama, biarkan kali ini kukata tentang rasa yang mungkin tidak pernah terbias di hatimu.

Aku punya kumpulan, salah satu kumpulan terkuat di dunia antara kumpulan penentang penguasa rimba raya.

Kumpulanku ini punya jejaring ke seberang samudra, punya cakar dan taring kuat, tapi tidak kutahu mengapa seakan kami tidak memiliki itu semua. Kami berjalan di ruas belukar tanpa ujung. Satu persatu dari kami dijemput pulang ke rumah abadi.

Aku bagaikan tersesat di kawanan, di rimba. Para penunjuk jalan dan kepala kawananku, entah sadar atau tidak, telah mengarahkan kami ke jurang bunuh diri.

Aku tidak ingin ke sana, kutahu ruas jalan yang mana seharusnya kami lewati. Aku pergi. Tidak pernah kembali.

Aku tidak kembali karena kutahu bahwa tidak ada lagi jalan yang dapat kuyakini suci di kawanan.

Kami, sebagian kami, mencuri kambing di perjalanan. Celakanya, semua kepala kawanan pun menganggap tujuannya mencuri kambing. Dan tersesatlah mereka di kandang.

Orang-orang pun marah, mereka yang tadinya menganggap kami sebagai pahlawan, kini menuduh kami semua sebagai pencuri kambing.

Aku merasakan sakit hati saat ada orang yang menganggapku seperti kawanan itu, karena jangankan mencuri kambing, talinya pun tidak pernah kuambil. Bahkan aku menentang para pencuri kambing itu, mereka telah tersesat dari tujuan awalnya. Atau, mereka memang musuh yang menyusup untuk merusak cintra kawanan itu dari dalam.

Walaupun begitu, aku akan menendang siapapun yang mengatakan jalan kami salah sejak awal, karena kami sejatinya adalah pejuang. Dengan begitu ada dua musuh sekarang, yaitu para pencuri kambing dan pencaci yang bodoh.

Aku tidak peduli lagi tentang tercapainya tujuan kami atau tidak. Aku menyadari bahwa kami telah kalah. Walaupun begitu, ada impian yang senantiasa menang, impian di hati para ideolog.

Baca juga: