Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaTetap Optimis di...

Tetap Optimis di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Alya Habiba*

Pada akhir tahun 2019, dunia digegerkan dengan serangan virus baru asal kota Wuhan, China, kemudian dikenal sebagai Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Virus yang kemudian dan hingga kini menjadi pandemik global, tak terkecuali Indonesia. Setiap hari jumlah kasus dan korban corona di Indonesia terus bertambah, grafiknya terus naik, dan belum ada tanda-tanda melandai.

Sejak saat itu Indonesia mulai menerapkan social distancing (yang kemudian diganti menjadi physical distancing) dan para pekerja secara bertahap mulai memberlakukan WFH atau  Work From Home. Hal tersebut berakibat pada timbulnya masalah serius yang menerpa setiap bidang kehidupan. Diantaranya yakni banyaknya perusahaan yang libur sebab ada larangan bekerja yang dibuat oleh pemerintah.

Aktivitas masyarakat yang terbatas juga menyebabkan ada begitu banyak perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan. Tak sedikit perusahaan yang terpaksa melakukan Pemutus Hubungan Kerja (PHK) untuk menekan kerugian yang akan membesar jika tetap menggaji para karyawan.

Sedangkan untuk ranah pendidikan diberlakukannya sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ adalah sistem pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidiknya dan pembelajaran menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi, dan media lain. Para pengajar harus mencari cara bagaimana melakukan kegiatan mengajar secara online menggunakan berbagai media digital untuk membantu pengajaran dan begitu juga dengan mahasiswa harus cakap dalam menggunakan media digital yang telah ditentukan oleh pengajarnya.

Dari hal tersebut, muncul berbagai macam reaksi. Dari sisi pengajar, terdapat beberapa keluhan seperti rasa stres dan kecewa karena mahasiswa tidak paham materi seperti yang diharapkan serta menumpuknya tugas yang harus dikoreksi. Selain itu dari sisi mahasiswa, keluhan seperti tugas yang menumpuk dan materi yang dijelaskan melalui perkuliahan daring tidak sejelas jika menjelaskan dengan bertatap muka atau offline (Hidayati, 2020).

Pemerintah mengharuskan seluruh warganya untuk mengarantina diri sendiri demi menekan penyebaran virus secara masif. Hal ini bisa dibilang cukup mendadak karena sebelumnya tidak ada persiapan apapun untuk menerapkan hal tersebut.

Selain itu, tidak hanya pelajar, pengajar, dan buruh saja yang merasakan dampak dari pandemi ini, namun masyarakat umum juga merasakan. Salah satu kecemasan yang dirasakan oleh masyarakat umum adalah cemas akan tertular virus Covid-19 dan memunculkan beberapa simptom fisik yang dikenal sebagai psikosomatis.

Psikosomatis merupakan gangguan fisik akibat reaksi emosi yang berlebihan (Kartono & Gulo, 1987).  Hal ini dapat memunculkan kerentanan psikologis seperti penelitian yang dilakukan oleh Sinaga (2016)  bahwa kondisi psikologis memiliki kaitan yang erat dengan kondisi fisilogis.

Perasaan takut, stres, tertekan, tidak tenang, cemas, merupakan respon psikologis bahwa kesehatan mental seseorang sedang dalam kondisi tidak stabil dan memiliki perasaan tersebut dikarenakan pandemi dan stres akademik adalah hal yang normal (Peristianto, 2020). Dari hal yang disebutkan di atas, kecemasan lebih dominan muncul selama pandemi.

Dalam menyikapi hal ini banyak cara yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga kesehatan mental individu seperti tetap optimis meskipun keadaan penuh dengan hal yang membuat stres dan tertekan. Seperti yang dikemukakan oleh Seligman (2013), bahwa dengan bersikap optimis  individu tidak mudah terserang penyakit termasuk virus (dalam hal ini coronavirus). Selain itu, gaya hidup yang sehat dipilih oleh orang optimis dan biasanya orang optimis memiliki dukungan sosial yang baik serta lebih bahagia.

Sama halnya dengan optimisme, di tengah wabah seperti ini, individu juga harus memperbanyak aktivitas-aktivitas yang membuat hati senang seperti melakukan sesuatu yang jarang dilakukan karena terlalu sibuk dengan dunia luar, beribadah, dan lain-lain. Dengan melakukan kegiatan yang membuat individu senang, maka akan meningkatkan imunitas sehingga dapat terhindar dari covid-19 (Hafiz, 2020).

Selain dengan optimisme, cara meredakan kecemasan bisa juga dengan (1) membatasi melihat informasi mengenai hal yang membuat cemas dan hanya menerima informasi dari sumber terpercaya. (2) tetap berkomunikasi dengan kerabat dekat melalui telpon, email, ataupun sms. (3) mempertahankan gaya hidup yang sehat dan menjaga kebersihan.

Dari sini dapat  disimpulkan bahwa dengan tetap optimis, menjaga kesehatan, melakukan aktivitas yang membuat bahagia, dapat meningkatkan imunitas tubuh dan hal tersebut merupakan salah satu upaya preventif dalam mengurangi terserang penyakit ataupun virus. Membatasi menerima informasi hanya dari sumber terpercaya juga dapat menurunkan kecemasan akibat Covid-19.[**]

*Mahasiswi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Baca juga: