BIREUEN – Seorang pendidik di Bireuen Teungku Ishak M. Ged mengatakan, dunia ini merupakan perubahan secara terus menerus hingga titik kejenuhannya yang diibaratkan dengan kematian. Dalam ilmu mantik (logika), kata dia, sering kita dengar “al-alam mutaghair” dan “kullu mutaghair al-hadist” dengan konklusinya “al-alam hadist” (alam itu berubah-ubah)”. Karena itu, katanya, kita harus mampu merealisasi perubahan itu dengan nilai kebaikan di segala aspek terutama dunia tarbiyah (pendidikan).

“Berbagai macam perubahan yang terjadi di dunia ini bukan saja berhubungan dengan lingkungan fisik, tetapi juga dengan budaya manusia dan tarbiyah. Hubungan erat antara manusia dan lingkungan kehidupan fisiknya itulah yang melahirkan budaya manusia dengan ditopang tarbiyah yang seiring zaman dan eranya,” papar Teungku Ishak kepada portalsatu.com, di sela-sela kesibukannya, di Diestro MUDI, Samalanga, Sabtu, 3 Desember 2016.

Teungku Ishak menyebut sebuah budaya itu lahir disebabkan kemampuan manusia menyiasati lingkungan hidupnya agar tetap layak untuk ditinggali waktu demi waktu. “Tarbiyah dan budaya sangat erat hubungannya. Nilai tarbiyah itu sebagai kompas terhadap nilai budaya dan kebudayaan itu sendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebuah  kebudayaan dipandang sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau kelompok orang yang selalu mengubah alam. Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan setiap orang atau kelompok dalam menentukan hari depannya. Tarbiyah di sini sangat menentukan arah kebudayaan itu sendiri di samping faktor lingkungan dan agama. Sebuah program pendidikan itu haruslah sesuai dengan pondansi muta’allim (anak didik).

“Dalam hal ini salah seorang filosof dan ulama besar yang pendapatnya menjadi rujukan dan kajian di dunia dengan karya monumentumnya ‘Ihya Ulumuddin’, Imam Al-Ghazali, menyebutkan  potensi manusia ada empat komponen, yaitu: ruh, kalbu, akal dan nafsu. Sementara Sigmund Freud membagi komponen sistem kepribadian manusia meliputi: superego, ego dan id. Sedangkan Bloom membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga komponen, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Adapun Howard Gardner menjabarkan lagi ke dalam delapan kecerdasan, yaitu: linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik jasmani, musikal, antarpribadi, intrapribadi dan naturalis,” kata kandidat Master Manajemen Pendidikan IAIN Malikussaleh Lhokseumawe itu.

Teungku Ishak menambahkan, pengembangan program pendidikan yang meliputi tujuan, kurikulum, metode pembelajaran dan lingkungan pendidikan haruslah berbasis pada potensi manusia anak didik.

Sementara itu peran agama di dunai tarbiyah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan apapun jenjangnya. Hampir tidak ada pendidikan di berbagai belahan dunia ini yang lepas dari pengaruh dan dogma agama, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. “Dunia pendidikan yang gelap terhadap nilai-nilai moral etis, serta kehidupan bangsa yang dipenuhi dengan keserakahan, korupsi,  dan kemunafikan serta nilai berbagai prilaku negatif lainnya yang kerap terjadi di muka bumi ini, mengharuskan  adanya penguatan nilai-nilai sufisme dan relegiusme. Bukan hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga semua mata pelajaran, keteladanan dan budaya sekolah,” ujar teungku Ishak.

Menurut Teungku ishak, dunia tarbiyah baik sekolah, perguruan tinggi dan dayah bukan hanya benteng penjaga moral terakhir, tetapi juga diharapkan mampu melahirkan manusia-manusia yang bijak dan bermoral serta ber-akhlakul karimah. “Ini telah citeruskan dan dilaksanakan oleh Al-Mukarram Abu MUDI dengan mendirikan  dayah dan pendidikan formal seperti IAI Al-Aziziyah di perkampungan dayah,” kata ulama muda kelahiran Samalanga itu memberi contoh.

Teungku Ishak melanjutkan, perubahan ke arah kebaikan dan perbaikan itu sesuatu sangat dinantikan dan idamkan semua orang. Namun terkadang perubahan itu menimbulkan rasa kurang simpatik masyarakat yang mendiami kemajuan dan perubahan.

“Ini hal yang wajar, seperti yang terjadi dalam lembaran sejarah dulu. Semestinya putra daerah harus mampu melihat daerahnya yang telah maju dan perubahan yang dilahirkan oleh putra pendatang hendaknya dijadikan sebagai batu sandungan dalam memompa semangat untuk lebih maju dan melepas diri dari belunggu kebodohan dan kejahilan serta bangkit dari ‘tidur panjang’ ketertinggalan,” ujarnya.

“Geutanyoe putra daerah bek sampe teungeut, dan yang carong mita cara kemajuan yang telah berkembang beu hancur dan menghambatnya. Kiban cit harus ta jadikan kemajuan yang ka dibangun le kaum pendatang sebagai cerminan untuk ta beudoh dari teungeut dan bangkit droe keudroe dan saling ta bantu atas kemajuan yang ka. Maka wajarlah ‘buya krueng teu dong-dong, buya tamong meu raseuki’, dan ta respon secara positif dan bek ku-‘eh, iri dan dengki,” ujar guru Dayah Ummul Aiman dan MUDI Mesjid Raya Samalanga itu menamsilkan.[]