inspirasi qur’ani

 

“Inna Sa’yakum Lasyatta'”: usaha taat atau jalan maksiat.

 

Terjemahan ayat  4  surat al lail di atas sangat sederhana, “Sesungguhnya usaha kalian benar-benar beraneka ragam,”

 

Walau ringkas, ia menyimpan kedalaman makna yang mengajak kita untuk merenungkan hakikat perbedaan dalam perjalanan hidup.

 

Sejak mata ini terbuka hingga terpejam kembali, kita menyaksikan betapa uniknya jejak langkah setiap individu. Betapa besar kehendak bebas yang Diberikan Allah swt kepada manusia.

 

Ada yang memilih jalan sunyi penuh kontemplasi, mendekatkan diri pada Sang Khalik melalui ibadah dan zuhud.

 

Di sisi lain, tak sedikit yang memilih hiruk pikuk dunia, mengejar ambisi dan materi dengan segala daya upaya. Memiliki semua dan merampas semua yang bisa dikuasai.

 

Bahkan dalam satu ruang dan waktu, motivasi yang menggerakkan hati pun berbeda. Ada yang tulus berbuat kebaikan tanpa mengharap imbalan duniawi, semata-mata mencari ridho Ilahi.

 

Namun, ada pula yang beramal dengan pamrih, menghitung setiap kebaikan sebagai investasi untuk pujian atau keuntungan sesaat. Ada pula yang memilih antara taat atau maksiat.

 

Kita sebagai Navigator:

“Inna sa’yakum lasyatta'” bukan sekadar deskripsi tentang keragaman tindakan. Lebih dari itu, ia adalah penegasan akan kebebasan memilih yang dianugerahkan kepada manusia.

 

Kita adalah nahkoda bagi bahtera kehidupan kita sendiri, bebas menentukan arah layar dan tujuan pelabuhan. Jalan ketaatan dan jalan kemaksiatan terbentang di hadapan, dan setiap pilihan akan menorehkan catatan amal yang unik.

 

Perbedaan tadi merambah hingga ke nilai-nilai yang kita junjung tinggi dan  prinsip yang menjadi kompas moral dalam setiap keputusan.

 

Namun, di tengah lautan perbedaan usaha ini, ada satu benang merah yang menghubungkan kita semua: pertanggungjawaban.

 

Ayat ini sekaligus menjadi pengingat yang mendalam bahwa setiap “sa’y” (usaha) tidak akan berlalu begitu saja.

 

Allah SWT, Sang Maha Adil, telah menjanjikan balasan yang setimpal bagi setiap perbuatan. Kebaikan akan berbuah kebaikan, dan keburukan akan menuai konsekuensi yang setara.

 

Dalam  citra  kehidupan yang seringkali dipenuhi persaingan dan perbandingan, “Inna sa’yakum lasyatta'” hadir sebagai oase yang menenangkan.

 

Tidak Terjebak:

Ayat tadi mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam standar kesuksesan yang sempit dan seragam.

 

Setiap individu memiliki potensi dan jalannya masing-masing. Fokus kita seharusnya bukan pada seberapa jauh kita telah melangkah dibandingkan orang lain, melainkan pada kualitas “sa’y” yang kita lakukan.

 

Apakah setiap tindakan kita dilandasi niat yang tulus? Apakah usaha kita memberikan manfaat bagi sesama? Apakah pilihan-pilihan kita mendekatkan diri kepada Sang Pencipta?

 

Maka mari kita pilih jalan kebaikan, sekecil apapun, karena setiap amal akan memiliki timbangan di sisi Allah. Tingkatkan kualitas diri, tebarkan manfaat, dan senantiasalah mencari ridho-Nya.

 

Dengan demikian, keragaman “sa’y” kita akan bermuara pada tujuan yang mulia: meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.[]

 

 

Taufik Sentana 

Penulis Buku Inspirasi 1000 Bulan

Sedang menyusun Buku Hidangan Maha Rahman.