LHOKSEUMAWE – Anggota DPRK Aceh Utara dari PA, Tgk. Junaidi, mengaku prihatin dengan sistem pengaderan di partainya. “Sejak Pemilu 2014 suara PA menurun., tapi tidak juga menjadi semacam warning dalam melakukan pengaderan,” ujar Tgk. Junaidi kepada portalsatu.com di Lhokseumawe, belum lama ini.
Tgk. Junaidi alias Tgk. Ned mengaku cukup khawatir untuk Pemilu 2019. “Saya berharap dengan sistem penghitungan suara baru PA kembali mendominasi perolehan kursi di semua tingkatan terutama DPRA,” kata Tgk. Ned yang saat ini menjabat Ketua Komisi E DPRK Aceh Utara.
Ia pun menyoroti PA soal perekrutan calon legislatif. Cara memilih calon dinilai 'amat buruk'. Misalnya dengan menempatkan calon-calon baru, bahkan banyak yang belum pernah mencalonkan diri di semua tingkatan. “Tiba-tiba jadi calon DPRA. Sementara kader yang sekarang sedang menjabat 'dibuang'. Ini terlihat dari banyaknya kader PA naik ke DPR-RI dari parnas,” jelasnya.
“Lage ta peurayek aneuk beureujuek. Ban ka jeut jipo ta peulheuh teuma,” kata Tgk. Ned menamsilkan.
Padahal, kata Tgk. Ned, kader yang sudah menjabat jelas punya massa dan materi. Sehingga sangat membantu elektabilitas PA. Namun, kini mereka meloncat ke parnas.
“Ini sangat menguntungkan parnas sebab mereka mendapat calon yang sudah mapan. Baik dari segi akseptabilitas publik maupun dana,” ungkap kader PA yang sudah dua periode menjadi anggota DPRK ini.
Sementara kader baru yang diusung kini, lanjut Tgk. Ned, jelas harus berjuang keras. Di samping rendah ekseptabilitas, elektabilitas dan biaya kampanye.
“Parahnya di samping mereka tidak berkecukupan dana, kualitas sebagian mereka juga rendah. PA terjebak primordial perjuangan,” tambah pria kelahiran Dewantara ini.
Dia khawatir bila PA makin dijauhi pemilih. Ini bisa dilihat dari mindernya caleg PA dengan kampanye kekhususan Aceh. “Lihat saja APK caleg PA hampir tidak lagi memuat MoU dan UUPA sebagai isu kampanye. Ini berbahaya bagi Aceh dan parlok. Pemilih akan berpikir tidak ada bedanya parlok dengan parnas,” kata Tgk. Ned.
Padahal, kata Tgk. Ned, PA adalah lanjutan perjuangan, dan yang paling pokok kekhususan Aceh harga mati.
“Saya mengkritik dengan niat baik. Walau terlambat mungkin, tapi saya mencintai partai saya. Dan saya tetap mengampanyekan PA, walau tidak mencalonkan diri lagi,” tegas Tgk. Ned.
Tgk. Ned berharap setelah Pemilu 2019 PA segera melakukan konsolidasi. “PA harus menjadi partai moderen dan tidak hanya menyandar diri pada figur dan primodial masa lalu, sudah cukup tiga pemilu. 'Han keumah ta peugot nanggroe sabe–sabe bangai teuh,” kata dia bertamsil.
Dia berharap ke depan PA mulai mengajak kader di luar kader tradisional mantan pejuang. Intelektual dan para pakar serta ulama wajib dilibatkan dengan aktif. “Partai wajib eksis dan maju, jangan di balik. Kader jangan cuma menjadikan partai sebagai tunggangan,” pungkasnya.[]





