Oleh Taufik sentana*
 

Ketika Bilal bin Rabah menjumpai Rasulullah menjelang shalat Subuh, ia mendapati Rasulullah Muhammad SAW., sedang basah matanya. Setelah Bilal bertanya, Nabi pun menjawab:

“Celakalah orang yang membaca ayat ini tapi tidak memikirkannya”, lalu Nabi Muhammad SAW., membacakan ayat surah Ali Imran yang masyhur itu, tentang penciptaan langit dan bumi hingga akhir ayat yang menunjukkan sikap ulil-albab sebagai kaum terpelajar dengan karakter zikir dan tafakur.

Bila zikir berkesan vertikal dan bersifat ruhiyah, maka tafakur bisa  berlangsung secara vertikal-horizontal lewat medium semesta raya, dari makhluk tak terlihat hingga tegaknnya langit tanpa penyangga. Ada juga kata tadabur, tapi maknanya lebih condong ke pemahaman ayat-ayat qauliyah (Alquran). Sedangkan tafakur yang menjadi pembahasan ringan kita, lebih mengacu pada ayat kauniyah (ciptaan Allah di jagad raya ini).

Tafakur akan selalu menjadi “tema” yang aktif dan relevan karena ia sejalan dengan fungsi kemanusian kita yang menuntut kemampuan berpikir, mencerna, melakukan sintesa dan berkreasi dalam mewujudkan hidup yang lebih baik.

Petikan kisah Bilal bersama Rasulullah yang penulis bawakan di atas tadi, sebagai penguat betapa pentingnya bertafakur. Sebagian cendekiawan sepakat bahwa tafakur juga sebagai “metode belajar” yang bersifat nabawi. Artinya, para nabi umumnya melewati fase tafakur ini sebelum Allah melantiknya. Model ini kiranya baik diterapkan untuk pembelajaran siswa dengan memerhatikan tingkat usia dan nalar mereka.

Tafakur dapat diartikan sebagai bentuk berpikir secara mendalam tentang realitas keseharian dan lingkungan kehidupan kita guna menghasilkan pemahaman, gagasan dan “penemuan” baru. Dalam bertafakur objeknya adalah seluruh alam semesta dan semua unsur benda (atau peristiwa) yang melingkupinya, bahkan ke diri sendiri:

“Dan pada dirimu sendiri, tidakkah kamu perhatikan dengam seksama (tubshirun)?” Dalam petikan ayat ini misalnya, Allah menggunakan kata “tubshirun“, kemampuan melihat yang tidak hanya mengandalkan mata (tanzhurun), dapat dianggap sebagai indikasi bahwa  seseorang dapat dikatakan telah bertafakur apabila ia telah memaknai dan mempelajari kembali dari apa yang ia lihat, dengan keyakinan bahwa mata sebagai pemantik pikir yang lazim, sebagaimana pendengaran dan fungsi inderawi lainnya.

Dalam terminologi akidah, fungsi inderawi kita tadi dikategorikan sebagai jendela petunjuk (Hidayah Allah).

Tingkatan tafakur

Untuk memudahkan kita dalam menemukan model tafakur yang mungkin telah kita aplikasikan, berikut penulis sajikan tiga tingkatan tafakur.

Pertama, tafakur untuk membangun pengertian.

Dari kegiatan ini, yang berlansung secara induksi, lewat objek tertentu, seseorang akan sampai pada satu kesimpulan dan pembenaran tertentu, hingga menjadi konsep, gagasan yang menjadi pertimbangan bagi penemuan selanjutnya. Dengan model tafakur ini, Al-Haytham, ilmuan optik Muslim abad 9 M, mempelajari mata, cahaya dan penglihatan untuk diterapkan kemudian pada kamera dan proses “cuci-cetak”.

Kedua, tafakur untuk membangun peradaban.

Kegiatan ini berlangsung lebih intens dan melibatkan kolektivitas,  dukungan negara, kerja prosedural, teknis atau pengujian yang menghasilkan produk jadi berupa teknologi alat kemudahan hidup (dari tingkat rendah, seperti sabun hingga TV lipat), buku-buku, karya seni-sastra, bangunan-bangunan dan kebudayaan secara umum.

Model ini telah dilakukan, misalnya, oleh Ziryaf, ilmuan “pesolek”, ahli kecantikan Muslim (juga ahli astronomi, sastrawan, penyanyi) abad 7 M. Ia adalah pencipta trend, mendirikan salon kecantikan pada masa itu, menciptakan deodoran, sabun dan pasta gigi. Sama halnya dengan Al Razi, yang meracik minyak wangi pada masa yang tak jauh beda. Mereka menjadi pembentuk kebudayaan tinggi dan peradaban dunia jauh sebelum kebudayaan Eropa (lebih dari 600 tahun jaraknya).

Ketiga, tafakur untuk keinsafan diri.

Dari kedua level tafakur tadi, bisa saja menjadi petaka kemanusiaan, bila para pelakunya hanya bekerja  untuk pengetahuan dan capaian materiil semata (sekuler-materialis-me).

Maka menjadi penting untuk sampai pada tingkat tafakur yang ketiga, di mana pelakunya, tidak hanya mencapai kesimpulan ilmiah dan penemuan terbaik, tapi ia juga sampai pada penghayatan tertinggi tentang adanya Pencipta, yaitu Allah SWT, yang kemudian mengantarkannya pada rasa tunduk (islam), dipenuhi rasa khusu' dan senantiasa mengharapkan pengampunan dan rahmat dari (Allah) yang telah membimbingnya untuk berpikir.

Wallahu A'lam. Moga ulasan kecil ini bermanfaat.[]

*Taufik sentana
Staf Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat.
Guru Quran dan Bahasa Arab di MTs Harapan Bangsa dan Anggota Pengembang Program SMPIT Teuku Umar.