LHOKSUKON – Masyarakat kawasan pedalaman Dusun Sarah Raja, Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara hingga saat ini masih menggunakan perahu sebagai alat transportasi. Pasalnya, tidak ada akses jalan darat menuju pusat Gampong Leubok Pusaka.

“Warga Dusun Sarah Raja harus naik perahu untuk bisa mencapai Gampong Leubok Pusaka, baik itu berbelanja atau untuk menjual hasil tani. Hal serupa juga dilakukan murid sekolah, mengingat letak sekolah memang di Leubok Pusaka,” kata Geuchik Gampong Leubok Pusaka, Jaharuddin kepada portalsatu.com, Senin, 23 Mei 2016.

Ia menyebutkan, jarak tempuh Sarah Raja menuju Leubok Pusaka dengan menggunakan perahu mesin berkisar sekitar 1,5 jam, sedangkan untuk perahu dayung lebih lama. Aktivitas itu sudah dilakoni warga sejak era tahun 1990-an. Di Sarah Raja terdapat 56 Kepala Keluarga (KK) atau 280 jiwa. Warga dewasa dikenakan ongkos Rp10 ribu hingga Rp15 ribu perorang sekali menumpang perahu, sedangkan untuk siswa sekolahan digratiskan.

“Sebenarnya sekitar tahun 2005 saat Bupati Aceh Utara dijabat Tarmizi A Karim, akses jalan sepanjang 19 kilometer sudah dikerjakan dan sudah bisa dilintasi. Hanya saja lima jembatan penghubung yang dibangun menngunakan kayu itu sudah hilang diterjang banjir, sehingga jalan itu tidak bisa dilintasi lagi,” ujarnya.

Menurut Jaharuddin, selama ini warga telah berupaya membuka kembali jalan yang sudah menjadi hutan tersebut. Namun hanya sebatas jalan setepak, itu pun baru bisa dilintasi sepeda motor jika tidak hujan.

“Sebagai masyarakat pedalaman di penghujung Aceh Utara, kami berharap pemerintah bisa membangun kembali jalan tersebut termasuk lima jembatan penghubung. Jalur darat ini dibutuhkan bukan hanya untuk dilalui warga Sarah Raja, tapi juga warga Leubok Pusaka dari dusun lainnya,” pungkas Jaharuddin.[]