BerandaBerita Aceh UtaraKisah Samidan Antar Jemput Warga Mengarungi Krueng Arakundo

Kisah Samidan Antar Jemput Warga Mengarungi Krueng Arakundo

Populer

Samidan menjadi pengemudi perahu antar jemput warga Sarah Raja mengarungi Krueng Arakundo sejak tujuh tahun silam. Perahunya nyaris karam suatu malam yang kelam di sungai amat dalam itu. Dia beberapa kali bermalam penuh risiko bersama perahu yang terombang-ambing di Krueng Arakundo. Samidan bertahan dengan pekerjaan berpenghasilan kecil tersebut didasari semangat tolong-menolong sesama warga dusun terpencil.

***

Samidan bersantai di teras bangunan berdinding batako bekas Taman Kanak-Kanak (TK) Sarah Raja ketika ditemui portalsatu.com, Jumat, 3 Maret 2023, malam. Pria berkulit gelap itu mengenakan singlet hitam dan kain sarung abu-abu. “Di Sarah Raja ini, banyak sekali kekurangan. Jaringan telekomunikasi pun sulit. Kalau butuh jaringan telepon seluler, kami harus ke tempat ini (bangunan bekas TK), sesekali jaringannya lancar,” ujar dia.

Dia salah satu dari 28 kepala keluarga yang masih bermukim di Dusun Sarah Raja, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Puluhan keluarga lainnya sudah angkat kaki akibat tidak ada jalan atau jembatan penghubung dengan dusun terdekat.

Dusun terdekat dengan Sarah Raja ialah Sarah Gala, Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Warga Sarah Raja harus naik perahu sekitar 10 menit untuk menyeberangi Krueng Arakundo menuju Sarah Gala. Terdekat kedua dengan Sarah Raja adalah Dusun Bidari, Desa Lubok Pusaka. Warga Sarah Raja menghabiskan waktu 1,5 jam untuk tiba di Bidari dengan menumpang perahu.

Empat perahu di Sarah Raja melayani antar jemput pelajar sekolah dasar dan warga berbelanja ke pasar di luar dusun tersebut. Salah satunya perahu milik Samidan. Pria 36 tahun itu saban Senin-Sabtu menakhodai perahu dari anak sungai Alue Sepoy di Sarah Raja, lalu mengarungi Krueng Arakundo, mengantarkan sejumlah bocah ke Sekolah Dasar (SD) di Sarah Gala. Perahu Samidan juga melayani antar jemput warga Sarah Raja yang berbelanja di pasar Bidari.

“Saya menjadi sopir boat (perahu) untuk mengantar anak-anak ke sekolah, dan warga berbelanja ke pasar, sudah tujuh tahun. Perahu hasil karya sendiri. Habis biaya Rp7 juta untuk fisik perahu saja, mesinnya Rp3,5 juta. Modal semuanya Rp10.500.000 untuk bikin perahu panjang 7 meter dan lebar 60 inci. Kapasitas muatan perahu itu enam-tujuh orang,” kata Samidan.

Samidan menerima ongkos antar jemput anak-anak ke sekolah Rp200 ribu/bulan perorang. Penduduk Sarah Raja yang menyeberang ke Sarah Gala, biaya naik perahu pergi dan pulang (PP) Rp20 ribu/orang. Warga Sarah Raja ke Bidari membayar uang jasa perahu PP Rp50 ribu perorang.

“Warga naik perahu dari Sarah Raja ke Sarah Gala dan Bidari untuk berbelanja, dan pergi ke tempat kerja. Setelah mendarat di Bidari, biasanya sebagian warga Sarah Raja juga berbelanja ke pasar Dusun Tanah Merah, Desa Lubok Pusaka, karena persediaan barang kebutuhan pokok di sana lebih banyak,” ujar Samidan.

Samidan menyebut ongkos dibayar warga itu pengganti bahan bakar minyak (BBM) perahu. Perahu Samidan menghabiskan 2 liter BBM pertamax/hari dari Sarah Raja ke Sarah Gala. Dari Sarah Raja ke Bidari, perahu itu menelan 5 liter BBM. Saat kembali ke Sarah Raja butuh tambahan 5 liter lagi.

Menurut Samidan, ongkos diterima dengan biaya membeli BBM perahu (pemasukan dan pengeluaran) memang tidak seimbang, sehingga keuntungannya tipis. “Namun, tidak mungkin saya minta tambah lagi ongkos, karena kondisi ekonomi masyarakat di sini tidak mampu. Kita pun mengingat saling tolong-menolong sesama warga di Sarah Raja, maka tidak masalah walaupun ongkosnya kecil,” tuturnya.

“Terkadang saya tidak pernah mendapat penghasilan lebih dari Rp1 juta, hanya Rp500 ribu – Rp600 ribu perbulan. Karena saya membawa perahu sesuai keperluan masyarakat yang hendak berbelanja ke pasar di luar Sarah Raja. Bahkan, sekarang saya terkadang sampai dua pekan tidak mendapatkan uang karena tak ada permintaan warga menggunakan jasa perahu,” ungkap Samidan.

Samidan menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi anjloknya harga jual pinang hasil panen masyarakat Sarah Raja. Tahun 2015 silam, harga pinang dari Rp15 ribu turun menjadi Rp12 ribu, dan 2016 anjlok ke Rp10 ribu/kg. “Pada 2022 tambah anjlok jadi Rp8 ribu. Sekarang (2023) hanya Rp3 ribu perkilogram. Makanya kondisi ekonomi masyarakat tidak stabil, karena umumnya warga di sini berpenghasilan dari hasil kebun,” ujar dia.

Dia sebelumnya menanam pinang di lahan seluas 2 hektare. Akibat harga komoditas ini tidak stabil dan terus tergelincir, sejak 2016 Samidan banting stir menjadi juragan perahu. “Empat perahu milik warga Sarah Raja, salah satunya punya saya. Penggunaannya terkadang punya saya, sesekali milik warga lain, tergantung perahu siapa yang standby di tepi Alue Sepoy,” ujar Samidan.

[Samidan mengantarkan anak-anak Sarah Raja, Aceh Utara, menggunakan perahu menyeberangi Alue Sepoy dan Krueng Arakundo, untuk bersekolah ke Sarah Gala, Aceh Timur, Sabtu, 4 Maret 2023. Foto: portalsatu.com/Fazil]

***

Samidan melewati berbagai rintangan mendebarkan selama menjadi pengemudi perahu mungil mengarungi Krueng Arakundo. “Jika debit air sungai tinggi, saat perahu saya mendahului boat lain berukuran besar, gelombangnya pun besar mengakibatkan air masuk ke dalam perahu saya, bisa karam atau hanyut,” ungkap dia.

Dia pernah mengalami peristiwa mengerikan pada tahun 2017, menjelang meugang Ramadhan, usai Magrib. Saat itu, Samidan mengantarkan beberapa warga pulang dari Dusun Bidari ke Sarah Raja, termasuk tiga anak kecil. Di tengah perjalanan, baling-baling perahu patah akibat kena kayu yang hanyut di sungai.

“Tiba-tiba turun hujan deras, perahu hampir karam akibat penuh masuk air. Beruntung masih mampu saya usahakan untuk bersandar ke tepi sungai, membuang air dalam perahu menggunakan timba. Malam itu kami harus menunggu pagi di atas perahu,” kenang Samidan.

Samidan melanjutkan, “bermalam di atas perahu sudah sering saya alami akibat patah kopling, patah kipas, terpaksa harus ikat perahu di pinggir sungai yang arusnya deras. Tapi, kejadian ekstrem, perahu penuh masuk air, itu baru sekali terjadi, mudah-mudahan jangan sampai terulang lagi”.

“Pengalaman pada 2017 saat hampir karam perahu itu membuat saya sangat berhati-hati sekarang. Karena kala itu bukan penumpang saja dalam perahu, juga ada beras, bawang, dan segala macam hasil belanja masyarakat dari pasar,” kata ayah empat anak itu.

***

Empat anak Samidan hasil pernikahannya dengan Silawati (32), bernama Azmi (14), Johari (12), Idawati (6), dan Muhammad Kardian (1,5 tahun). Dua di antaranya saat ini mondok di salah satu dayah di Kecamatan Langkahan. Dia membiayai kebutuhan anak-anaknya itu hasil jasa antar jemput warga dengan perahu. “Sedikit dari hasil panen pinang karena harganya sekarang sangat anjlok. Sehingga saya lebih fokus jadi sopir perahu,” ucap Samidan.

Samidan dan sebagian besar warga Sarah Raja lainnya menempati rumah bantuan dari Dinas Sosial Provinsi Aceh tahun 2011. Rumah itu berkonstruksi batako, beratap seng, dan memiliki dua kamar. Dari 36 rumah bantuan tersebut, kata dia, sekarang hanya 26 unit berpenghuni. “Karena sebagian warga sudah pindah ke tempat lain,” ungkapnya.

Penyebab hengkangnya sebagian warga ke tempat lain, kata Kepala Dusun Sarah Raja, Zulkifli, karena tidak ada akses jalan dan jembatan. Selain itu, kata dia, kebun masyarakat sering diserang kawanan gajah. Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi penduduk Sarah Raja yang menggantungkan hidupnya dari hasil kebun pinang, jeruk nipis, kemiri, jabon, dan durian.

“Banyak warga yang menyerah untuk tinggal di sini. Makanya banyak yang memilih pindah. Warga yang bertahan karena tidak punya lahan di kecamatan atau kabupaten tetangga sebagai tempat domisili baru,” ujar Zulkifli.

Zulkifli menyebut sebelumnya jumlah masyarakat Sarah Raja sebanyak 57 kepala keluarga, kini tinggal sekitar 28 KK. “Rata-rata warga di sini miskin. Sebagian memang punya kebun, tapi seringkali diobrak-abrik gajah. Apalagi hasil panen seperti pinang harganya cukup rendah, sehingga ekonomi masyarakat sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Itulah sebabnya, masyarakat Sarah Raja sangat membutuhkan akses jalan layak untuk memudahkan perjalanan ke Bidari. “Karena jalan itu kemungkinan lama terealisasi, saya berencana membuat perahu kapasitas agak besar bermuatan 10-12 orang. Butuh Rp10 juta untuk fisik perahu saja, belum termasuk mesin dan perlengkapan lainnya,” tutur Samidan.

Samidan meneguhkan semangatnya menjadi pengemudi perahu lantaran tidak ada pilihan lain. “Lagi pula, kasihan masyarakat di sini. Hanya lima sopir perahu yang sudah mahir untuk antar jemput warga. Kalau tidak berpengalaman bisa berisiko tinggi di tengah sungai besar dan dalam itu. Jadi, saya bertahan dengan pekerjaan ini sambil menolong sesamalah,” ujar Samidan menunjukkan semangat membara sang pria Sarah Raja.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya