LHOKSUKON – Tim Darah Untuk Aceh (DUA) berkunjung ke beberapa rumah penderita penyakit berbahaya dan mematikan di Kecamatan Lhoksukon dan Tanah Luas, Aceh Utara, Jumat, 2 Juni 2017. Dalam kunjungan itu, tim DUA didampingi relawan Cet Langet Rumoh.
Warga yang dikunjungi ialah Nuraini, 17 tahun, penderita kanker tulang di Meunasah Alue Tingkeum, Akmal, 3 tahun, penderita bocor jantung di Gampong Meunasah Nga, Lhoksukon, dan Halimah, 26 tahun, penderita bocor jantung di Kecamatan Tanah Luas.
DUA merupakan yayasan nirlaba dengan kegiatan utama mendampingi pasien thalassemia. Namun kini DUA memiliki divisi baru yang menjalankan sebuah rumah tinggal sementara bagi pasien anak dengan penyakit non-infeksi, dan keluarga pasien dari seluruh penjuru Aceh yang menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh.
“Ketika pasien datang dari luar kota untuk mengurus rujukan ke RSUZA, kadang ada masa di mana belum bisa dirawat di RS, atau untuk keperluan mengurus administrasi. Misalnya mau rujukan ke Jakarta, atau mau bermalam sebentar sebelum balik ke tempat asal, makanya disediakan rumah tinggal sementara yang dibantu oleh banyak donatur untuk operasional,” ujar Founder DUA, Nurjannah Husien akrab disapa Kak Nunu kepada portalsatu.com, Jumat malam.
Terkait Nuraini, pihak DUA mengaku sudah menyiapkan tempat tinggal sementara, bahkan telah dikomunikasikan ke dokter. Namun, ada kabar bahwa orangtua Nuraini tidak mau berangkat ke Banda Aceh untuk pengobatan. Nuraini juga ternyata sudah sempat didampingi Musfendi yang juga sudah berkoordinasi dengan DUA.
“Orangtua Nuraini tidak setuju anaknya diamputasi dan memilih untuk berobat alternatif. Dalam kunjungan kali ini, kita turun bersama Busnadil, seorang survivor kanker tulang yang sudah diamputasi kakinya. Hasil kunjungan ini, orangtua Nuraini menyatakan akan melakukan musyawarah keluarga dulu untuk memutuskan apakah Nuraini akan dirujuk ke Banda Aceh,” kata Kak Nunu.
Tim DUA kemudian berkunjung ke rumah Akmal, 3 tahun, dan Halimah, 26 tahun. Keduanya merupakan penderita bocor jantung. Kata Kak Nunu, Halimah sejak berusia 2 tahun telah menjadi piatu karena meninggal ibunya, yang tak lama berselang disusul meninggal ayahnya pada masa konflik. Sepeninggalan ayahnya, ia diasuh neneknya. Namun dua bulan lalu neneknya meninggal, hingga kini ia diasuh pamannya dengan segala keterbatasan.
Sudah sejak lama Halimah tidak mampu berobat lagi, dan keluarga sangat berharap ada yang mampu membiayainya agar bisa melanjutkan pengobatan kembali. “Saya melihat sekarang dengan perkembangan media sosial, banyak bermunculan relawan dari berbagai unsur yang berusaha menolong orang yang membutuhkan, seperti yang kita jalankan sekarang ini. Daripada terus menyudutkan pemerintah, masyarakat bisa mengambil porsi sendiri. Ini 'kan ladang amal terbuka luas,” ujar Kak Nunu.
“Alhamdulillah, komunikasi dan koordinasi terutama dengan teman-teman di daerah bisa berjalan. Kadang ada orang sakit di daerah, cuma karena belum mengerti mengurus jaminan kesehatan, ya dibantulah, kalau perlu rujukan juga bisa dikoordinasikan ke pihak yang bisa membantu. Misalnya kalau perlu tempat tinggal sementara untuk pasien anak dengan penyakit non-infeksi yang dirujuk ke RSUZA, bisa menghubungi kita, dan lain sebagainya,” kata Kak Nunu.
Selaku Founder DUA, Kak Nunu mengucapkan terima kasih kepada relawan di daerah yang bekerja tanpa pamrih dan telah menjadi perpanjangan tangan DUA, sehingga banyak masyarakat yang terbantu.[]


