BLANGKEJEREN – Pengembangan kebun untuk masyarakat miskin itu juga merupakan upaya pemerintah negeri seribu bukit tersebut untuk melakukan pemberdayaan masyarakat.

Hal itu disampaikan H Said Sani dalam pertemuan dengan para pihak, termasuk koordinator kecamatan yang menangani kesiapan lahan. “Saya ingin program ini kita awasi bersama supaya tepat sasaran, kita tidak ingin terulang lagi permasalahan yang lalu, karena jika kita hitung anggaran APBK untuk pengadaan bermacam bibit, rasanya tidak ada lagi lahan yang kosong,” katanya, Kamis, 7 November 2019 di Blangkejeren.

H Said Sani juga mengigatkan, koordinator lapangan harus benar-benar memberikan data, dan mengawasi agar jangan sampai bibit kopi bantuan tersebut disalahgunakan.

“Siapa saja penyedia bibit kopi ini, jika tidak sesuai dengan spek harus ditolak, jangan diterima. Tim PHO harus ingat itu, jagan diterima bibit asal-asalan karena akan menambah daftar kemiskinan warga lagi lantaran setelah menunggu lama tidak ada hasil,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Gayo Lues, Zakaria. Ia menegaskan, jika ada yang bermain pada program tersebut, maka tim PHO akan diberikan sangsi tegas, sebab, bibit yang disediakan itu berjenis Gayo Satu yang didatangkan dari Kabupaten Bener Meriah.

“Yang dibantu adalah bibit kopi 850 ribu batang, pohon pelindung 250 ribu batang, pupuk SS, pestisida, herbisida, dan yang lainya, jadi pengawasan harus diperketat, jika ada penerima belum siap lahan atau tidak jadi menanam kopi, buatkan MoU supaya dialihkan kepada yang lain,” jelasnya.[Win Porang]