Oleh: Taufik Sentana*

Setiap kita memiliki titik berat yang berbeda dan beragam. Titik berat dalam arti dinamika hidup, gejolak dan problematikanya. Termasuk, latar belakang dan orientasi orientasi kita, turut dalam pembentukan diri dan  menjadi titik titik dalam hidup kita, seperti pola pada kata sandi di HP pintar, dengan bentukannya masing masing.

Mungkin secara literal dan psikologis, titik terberat yang sering kita ketahui adalah adanya krisis dalam kehidupan seseorang, entah itu secara pribadi, sosial, finansial dan lainnya. Krisis itu akan ia hadapi, baik suka atau tidak.

Konon, setiap kita memiliki masa krisis” sendiri, yang ia lampaui atau mengerus sesuai waktu dan prinsip yang diyakini. Sebagian krisis memang butuh resolusi, sebagian lagi, penerimaan dan perbaikan diri langsung.

Usia 40 an tahun termasuk tahapan memungkinkan dalam fase krisis ini, tergantung periode sebelumnya dan kematangan diri dalam menyikapi relaitas hidup yang semakin membutuhkan “jalan keluar”: tempat tinggal, pendidikan/sekolah anak, pengaruh sosial, kekuatan finansial, rasa spiritual dst.

Maka wajar, bila Allah Menunjukkan RahmatNya dengan firmanNya, yang bermakna(surat Al Ahqaf): agar kita meminta pertolonganNya dalam memperbaiki keluarga kita, meminta Dia Terlibat” dalam usaha kita melampaui krisis” pada rentang usia ini.

Di samping fase krisis di atas, titik berat lain yang paling mungkin kita alami adalah, titik berat dalam Perbaikan Diri.
Titik berat untuk melampaui ketaatan dan istiqamah dalam prinsip dan keyakinan serta konsekuensinya.

Dalam bahasa populer, sering dikenal dengan Hijrah, fase peralihan dan komitmen untuk menjadi lebih baik dan terus bersikap ihsan. Inilah fase dan titik terberat yang akan terus menuntut kita, walau mungkin tanpa kita sadari.[]

*Peminat studi Pembinaan SDM