LANGSA – Usman Abdullah atau dikenal Toke Suum berharap dengan terbentuknya Tim Pemenangan Gubernur-Wakil Gubernur Aceh 2017 Muzakir Manaf-TA Khalid, nantinya koordinasi kerja dengan semua elemen masyarakat dapat dijalin dengan baik. Pasalnya pembentukan Partai Aceh yang berlatarbelakang perjuangan menuntut keadilan untuk Aceh terus berjalan hingga sekarang.

“Mungkin beda konsep, dulunya kita menggunakan senjata tapi hari ini kita menggunakan jalur politik, diplomasi, dan lainnya,” ujar pria yang juga menjabat Wali Kota Langsa saat ini saat memberikan sambutan dalam kegiatan pengukuhan Tim Pemenangan PA di Langsa, Senin, 27 Juni 2016.

Dia mengatakan semua hal tersebut tidak bisa dicapai jika sesama masyarakat Aceh saling tuding dan menyalahkan satu sama lain. Menurutnya hal ini sekarang terjadi di Aceh. Padahal, kata dia, jika merujuk pada cita-cita perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dulu adalah satu tujuan.

“Bagaimana membawa Aceh menjadi tempat tujuan yang akhirnya memakmurkan masyarakat Aceh. Tapi hari banyak kita lihat pada saat ini, banyak yang lari dari konsep-konsep perjuangan ini,” ujarnya.

Menjelang tahun politik Toke Suum juga menyebutkan banyaknya bermunculan media-media online yang bersandar kepada kepentingan kampanye satu pihak. Namun sayangnya kemunculan media-media online tersebut banyak menumbuhkan kebencian, baik itu dilakukan di facebook, twitter ataupun media sosial lainnya.

“Kalau bisa kita tanamkan sifat cinta dan kasih sayang sesama masyarakat Aceh. Bukan kepentingan sesaat, politik ini bukan pragmatis, bukan kepentingan sesaat tetapi ini berkelanjutan untuk masa datang untuk Aceh yang lebih baik. Jangan terpengaruh, jangan terprovokasi dengan hal-hal yang dipancing di media sosial. Saya berharap, khususnya kepada tokoh-tokoh muda, untuk menyikapi ini dengan santun dan memberikan penjelasan-penjelasan rasional yang masuk akal,” katanya.

Dia juga berharap tim dan kader Partai Aceh tidak ikut-ikutan dan turut menebar kebencian di media sosial. “Jangan sampai seperti ini, kalau bisa ini kita hindari. Sekarang saatnya memikirkan bagaimana kemajuan Aceh di masa depan,” ujarnya.

Menurutnya menanamkan kebencian, caci maki dan propaganda yang dilakukan di media sosial, telah merusak tatanan budaya kehidupan masyarakat Aceh yang mayoritasnya adalah Islam. Dia berharap hal tersebut diminimalisir sebaik-baiknya agar masyarakat Aceh tidak terpecah belah.

“Kadang-kadang orang sengaja menyebarkan permusuhan seperti ini agar kita saling bermusuhan sesama,” katanya.[](bna)