KEUMAWEH juga mempunyai nama lain seperti Ba Bu Gateng. Dalam hidangan tersebut banyak menunya baik lauk dan pauknya. Tentunya menu lain yang biasanya selalu menyertai nasi dan lauk saat keumaweuh adalah buah-buahan dan rujak.
Telah kita sebutkan sebelumnya bahwa prosesi adat lainnya saat keumaweuh ini adalah pasangan yang tengah berbahagia menanti kelahiran anak pertama dimana suami didudukkan bersanding beralaskan sebuah kasur untuk dipeusijuk. Tentuya yang mempeusijuk adalah rombongan pihak keluarga suami. Namun sebelum dipeusijuek, para tamu rombongan dipersilahkan menyantap jamuan makanan yang sudah disediakan keluarga pihak istri. Jadi tambah banyak makanan yang tersedia karena kedua belah pihak sama-sama memasak untuk acara tujuh bulanan ini.
Klasifikasi tradisi yang dilakukan masyarakat Aceh terhadap ibu hamil menurut masanya dan juga tergantung setiap daerah, di antaranya:
Pertama, masa kehamilan 0-3 bulan. saat mertua mendengar kabar bahwa menantunya sudah hamil maka dikirim utusan untuk diketahui kebenarannya. Tentunya pada bulan ketiga kehamilan, mertua bersama keluarga terdekat membawa berbagai jenis buah-buahan. Buah-buahan tersebut diolah oleh keluarga menjadi lincah (rujak). Kemudian disajikan kepada tamu dan dibagikan kepada tetangga sekitar. Bagi ibu hamil dimaksudkan untuk menambah selera makan ibu hamil sehingga kesehatannya lebih prima.
Kedua, masa kehamilan 4-7 bulan. Pada bulan kelima tentu sajaseorang suami ditepung tawari (rah ulee) oleh ibu mertuanya. Ketan dan kue-kue disediakan, kemudian dikirim ke rumah orang tua suami dan dibagikan kepada keluarga terdekat.Bulan keenam orangtua suami membawa nasi disertai lauk pauk dalam jumlah terbatas (bu cue), secara diam-diam tanpa diberi tahu terlebih dahulu kepada keluarga istri. Pada bulan ketujuh terdapat dua acara yaitu peumanoe tujoh buleuen.
Pada saat ini diadakan acara yang disebut dengan keumaweuh oleh keluarga istri. Keumaweuh adalah membawa bu gateng yang melibatkan keluarga suami atau mertua dengan mengantar nasi, lauk-pauk serta berbagai macam penganan seperti meusekat, wajek, dodoi, bhoi, timphan, keukarah, makanan boh manok, sama loyang, peunajoh tho dan lain-lain dalam jumlah yang besar.
Acara keumaweuh ini diikuti keluarga serta tetangga di kampung. Kehadiran mereka disambut oleh keluarga istri dan tetangga dengan suka cita. Pada kesempatan ini ibu hamil dipeusijuek (didoakan) oleh mertua dan keluarga dekat. Kegiatan adat ini dilakukan untuk memperkuat silaturrahmi dan ukhuwah islamiyah antar keluarga suami dan istri.
Menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepekaan sosial di masyarakat. Dari sisi psikologis dapat memperkuat rasa percaya diri dan meningkatkan nilai gizi ibu hamil.
Ketiga, masa kehamilan 8-9 bulan. Pada fase ini tentunya menjelang datangnya sang tamu. Perhatian dari keluarga terdekat diwujudkan dalam bentuk membawa makanan yang disukai oleh ibu hamil.[]
Dihimpun dari berbagai sumber.




