Sabtu, Juli 13, 2024

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...

Atlet Popda Gayo Lues...

BLANGKEJEREN - Pertandingan POPDA ACEH ke-XVII yang sedang berlangsung saat ini menjadi perhatian...
BerandaTuanku Al-Absyar Sutradarai...

Tuanku Al-Absyar Sutradarai Film Namaku Budaya

Sutradara Tuanku Al-Absyar (Alwinsyah), menyutradarai film berjudul Namaku Budaya sepanjang Maret dan April 2019.

“Ini adalah sebuah film fiksi yang menggambarkan sudut pandang dan interprestasi kita sebagai masyarakat di tengah-tengah globalisasi perkembangan zaman yang sangat pesat akan milenial,” kata Alwinsyah di Banda Aceh, Sabtu, 5 April 2019.

Tetapi, kata dia, dalam cerita film ini, khasanah sebuah keluarga di sebuah perkampungan yang masih sangat menjaga nilai-nilai budaya, seperti adab sopan santun berbicara, tingkah pola kehidupan dalam sebuah keluarga. Begitu juga pelestarian budayanya yang terekspos dalam film ini.

“Contoh, misal bagian scene yang menunjukkan keberadaan seorang tokoh kepala keluarga pensiunan dosen di sebuah universitas Aceh ini mengisi hari-harinya dengan tetap menjaga dan membudidayakan pembuatan rapa-i. Meskipun itu hanya workshop kecil-kecilan di samping rumahnya,” kata Alwinsyah yang sebelumnya menyutradarai film berjudul Suluh AlJawiy.

Sebagai sutradara yang dipercayakan oleh Aceh Multivision, Tuanku Al – Absyar haruslah sangat peka dan berhati-hati dalam menggarap supaya dapat mengungkapkan secara bahasa visual di dalam kaidah sinematografi agar tercapai interprestasi skenario sedetail-detailnya akan budaya kita sendiri yang hampir tinggal kenangan.

Sebut saja semacam “bu kulah, kenduri blang, kuah beulangong”, tenggelam di tengah kafe-kafe yang bertaburan bagai jamur beracun di seluruh Aceh terutama di ibukota Banda Aceh. Itu dihiasi pula dengan bahasa yang tidak berbudaya hingga menenggelamkan etika dan estetikanya, namun masyarakat kita dan kita sendiri “mungkin”, menelannya bulat-bulat. Sungguh bagaimana pula dengan anak cucu kita nanti.

Tuanku Al – Absyar sebagai sutradara, dalam hal ini; pada masa pra produksi sempat merevisi skenario sebanyak 3 kali, dari ide cerita sang produser sekaligus pemimpin Aceh Multivision, Salman Alfarisi.

Sutradara didukung penuh oleh produser yang sangat mengerti akan kebutuhan scene by scene dalam film budaya ini, agar mendapatkan tayangan film yang filmis sehigga materi scenario film budaya ini diharapkan dari tangan sang sutradara Tuanku Al- Absyar mampu menggugah psikologi para penonton agar kembali dapat menghargai budayanya sendiri.
Semoga!.[]

Baca juga: