“Bosku payah benar menerima saran saran kami. Padahal, dia selalu dimarahi atasan karena sering salah mengambil keputusan dan bersikap,” curhat seorang teman. 

“Aku seperti menghadapi tembok untuk mengubah pola pikir kawan kawan di kantor, kaku dan tidak punya visi,” keluh seorang manajer muda.

“Kapan majunya daerah ini bila semua usulan baru dan kreatif selalu dianggap melanggar kepatutan dan norma. Pimpinan daerah dan perangkatnya kayak pemikiran orang jaman mesin tik,” kritik seorang aktivis sipil.

Sahabat!!!

Masalah dan pemecahannya selalu ada. Terkadang jalannya tidak selalu linier dengan pola pikir kita. Sering kali kita terjebak oleh pikiran kita sendiri. Menganggap cara kita terbaik.

Padahal, disitulah sumber masalahnya. Kita merasa kita lebih. Mungkin faktor keilmuan, atau pendidikan kita yang lebih baik. Padahal, penyelesaian masalah  organisasi, menjadi tugas teamwork. Tidak baik bila kita merasa paling mampu.

Caranya barangkali dengan mendengar, memformulasi dengan pendapat kita. Bahkan, dibawa ke ruang debat. Syaratnya saling membuka diri. Tidak boleh ada klaim mutlak benar. 

Banyak organisasi gagal mencapai visinya. Sebab ego pengurusnya. Sebab ketidakterbukaan sesama orang-orang di sana. Sebab keengganan saling berdebat dan mengkritik. Lemahnya evaluasi sehingga gagal menemukan solusi.

Hal paling fatal jika Anda sedang menjadi pimpinan. Merasa pemilik otoritas penuh. Maka Anda sedang menyuburkan kemunafikan. Akan banyak laporan 'ABS.' Akan datang kepalsuan-kepalsuan. Ujungnya Anda akan terjerembab gagal.

Tugas manusia dalam organisasi manapun adalah mencapai tujuan organisasi. Dan itu hanya bisa dicapai dalam kebersamaan.[]