Sejak tamat SD dan belajar di pesantren Darul Arafah Medan saya mulai rajin menulis. Diawali dari tulisan sangat biasa dan ringan seputar kegiatan sehari  hari, hingga sampai menyampaikan pokok pikiran dan mecerna isi bacaan. Apalagi di akhir studi (saat itu), akan dinilai juga siapa santri paling banyak membeli buku selain buku pelajaran. Sedikitkan kami dianjurkan membeli satu buku perbulan. Kegiatan membeli dan membaca buku ini semakin mempermudah diri dalam menulis dan menemukan gaya yang sesuai.

Menjelang tamat (1996) dari pesantren tersebut, saya semakin ingin terus menulis. Terutama cerita,puisi dan esai pendek seputar kejadian sosial. Sebenarnya banyak juga catatan pendek yang hilang, yang tertuang di buku harian. Buku harian itu selalu berganti setiap tahun. Beberapa ada yang di buku tulis biasa, karena di tahun tahun itu belum familiar penggunaan komputer.

Ragam tulisan itulah yang saya anggap sebagai tulisan yang tertunda. Terutama menulis satu buku khusus tentang seluk beluk pengalaman di pesantren saat itu. Awalnya saya ingin komitmen fokus menulisnya setahun setelah masa tamat (97-98), tapi tak terkejakan karena saya mengambil program mengabdi (mengajar) setelah tamat. Sampai sekarang masih terngiang maksud menulis buku itu.

Terakhir telah saya bulatkan rencana judul bukunya, “Logika Santri”, disitu saya ingin menunjukkan bagaimana santri menjalani hidup di pesantren dengan alur logika sendiri. Karena cara pandang santri tentu beragam dan berbeda dalam memaknai setiap peristiwa. Jadi judul “Logika Santri” sepertinya pas. 

Sebenarnya judul ini terinspirasi dari judul “Logika Nasruddin” sang mullah/sufi dari Turki. Biasanya buku ini banyak juga dibaca oleh para santri. Potongan kisah di dalamnya memang mencerahkan dan melatih sudut pandang. Dengan maksud itu pula buku saya tersebut ingin saya selesaikan, tapi entah kapan. Padahal pokok bahasan dan dan sub judulnya sudah siap beberapa, tinggal pengembangan dan proses kreatif.

Diantara yang pokok,misalnya, dalam rencana buku itu adalah perkara niat yang saya angkat. Niat menuntut ilmu. Artinya setiap yang datang ke pesantren,mestilah tepat niatnya. Bukan untuk mempelajari bahasa, bukan untuk menjadi pandai atau bahkan bukan mencari kelas. Maka ada dijumpai, beberapa santri yang tetap belajar disana walau ia tinggal kelas. Bahkan, beberapa kali tinggal kelas ia masih tetap disana.Karena niatnya memang bukan mencari kelas tetapi menuntut ilmu.

Dalam gambaran saya, satu buku Logika Santri itu dapat mewakili pengembaraan saya dan teman teman seperjuangan saat menempa diri sejak 1990 sd 1996.

Demikianlah sekelumit catatan dari penulis tentang tulisan yang tertunda. Semoga dimudahkan penyelsaiannya di waktu dekat ini.[]

 

Taufik Sentana
Banyak menulis puisi dan esai sosial serta  interes pada kajian sains dan pengembangan SDM.