Sabtu, Juli 13, 2024

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...
BerandaTurki Cabut Larangan...

Turki Cabut Larangan Jilbab Bagi Tentara dan Polwan

ANKARA – Tentara Turki membuat sejarah baru dengan mencabut larangan jilbab di kalangan polisi dan tentara wanita di negara secara resmi di engara berhukum sekuler itu, sebagaimana disiarkan kantor berita negara Anadolu Agency, Rabu, diteruskan oleh worldbulletin.net.

Perempuan diizinkan mengenakan jilbab di bawah topi atau baret mereka dengan warna yang sama seperti seragam mereka dan tidak menutupi wajah mereka.

Reformasi hukum ini akan mulai berlaku setelah diterbitkan dalam lembaran resmi. Tidak segera jelas apakah itu diterapkan untuk wanita pada misi tempur. Hal ini juga akan berlaku untuk taruna perempuan.

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang didirikan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan telah lama menyerukan penghapusan larangan perempuan mengenakan jilbab.

Sebelum ini, pada tahun 2010, Turki telah mencabut larangan mengenakan jilbab bagi Muslim, di kampus universitas.

Ini memungkinkan siswa perempuan untuk memakai jilbab di lembaga-lembaga negara sejak 2013 dan di sekolah tinggi pada tahun 2014.

Sebelum mencabut larangan itu di kalangan tentara, pada bulan Agustus Turki untuk pertama kalinya mengizinkan polwan untuk mengenakan jilbab sebagai bagian dari seragam mereka.

Beberapa pihak Erdogan ingin menghapus pilar sekuler Turki modern seperti yang disiapkan oleh pendirinya Mustafa Kemal Ataturk ketika ia mendirikan Republik Turki pada tahun 1923.

Pemerintah membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa hal itu adalah kebebasan beribadah bagi semua warga negara Turki apapun keyakinan mereka.

Pada saat kontroversi pencabutan larangan jilbab di kepolisian, media pro-pemerintah menunjukkan bahwa beberapa negara Barat telah memberikan izin kepada polisi wanita untuk mengenakan jilbab.

Secara tradisional di Turki, sebelum ini, tentara dilihat sebagai benteng terkuat dari sekuler dan telah secara tradisional menentang setiap Islamisasi lembaga negara.

Tapi kekuatan politik militer sekuler telah surut setelah pemerintah meningkatkan kontrol atas angkatan bersenjata sejak percobaan kudeta 15 Juli 2016 yang gagal dan dituduh dilakukan oleh Fethullah Gulen yang berbasis di AS.[]

Baca juga: