Oleh Taufik Sentana*
Menurut Rocky Gerung, seminar web dan tatap muka virtual bisa menjadi sarana merawat akal sehat di tengah maraknya sentimen dan sinisme (rasa curiga ) negara terhadap kelompok di luar elite.
Hal itu terungkap dalam sela bincang Ust Abdul Somad (UAS) dan Rokcy Gerung (RG) di kanal Youtube resmi UAS, 20 Juni 2020.
Dalam durasi tayang sekitar satu jam itu, UAS sengaja dominan dalam mengajukan pertanyaan dan mengeksplore perspektif RG. Walaupun terasa santai, banyak poin poin pokok yang dapat dicerna dan dianalisa ulang oleh publik, termasuk membantu istana dalam memahami dirinya sendiri. Atau bahkan, pertemuan virtual tersebut akan menambah beban kerja Buzzer (waganet yang diarahkan membela satu kelompok) untuk mengkonter atau menyudutkan mereka berdua.
Rocky Gerung tampak enjoy dan merasa tidak takut dalam menyampaikan pendapatnya, yang menurutnya sejalan demgan akal sehat. Sedang UAS sebagai tuan rumah, hanya menimpali gagasan RG dan berusaha seakan netral.
Menurut hemat penulis kedua tokoh di atas setidaknya sepandangan tentang sikap negara (disebut istana karena negara gagal membangun kesetaraan secara demokratis) yang seakan berat sebelah dalam menyelesaikan kerja kerja politik-sosial dan hukum.
Bahkan RG menilai, negara yang antikritik dan menghambat dialog dan pola argumentasi akan memecah cerminnya sendiri, lalu memandang dirinya (istana, pejabat pengelola negara) sebagai monster.
Menurutnya, istana yang dipersonifikasi oleh Presiden, misalnya mesti fokus pada dua amanah konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa dan merawat kadilan, kesamaan hak dan membantu yang lemah.
Maka dalam kaitan ini, istana mesti menjadi teman dialog yang baik dalam argumen, bukan melawan argumen, pendapat dan kebebasan akademik dengan sentimen dan arogansi. Dia mencontohkan rektor yang langsung dipilih oleh presiden sebagai kegagalan dalam bernalar/ merespon laju kejernihan akal dalam dunia kampus.
Demikian juga prihal kasus Novel yang teraniaya dan justeru menciderai mata keadilan dalam menyelesaikan perkara dimaksud. Walau kasat mata, tapi mata hati publik tak akan bisa dibohongi, kata RG.
Pada akhir sesi, UAS sempat bertanya tentang perkara kematian, dan bagaimana RG memandang serta mempersiapkannya.
Menurut RG kematian memiliki makna yang peribadi dan sakral ia semacam jeda dan kelanjutan dari apa kita harapkan secara komunal dan ritual. Adapun yang ia ingin tinggalkan secara komunal/sosial adalah persaudaraan (bisa dalam arti seiman dan lainnya) dan perjuang hak manusia dalam mewujudkan keadilan.
Yang Unik, RG menutup sesi virtual itu dengan salam ala Islam yang lengkap, dan UAS menjawab dengan “salam” lalu merekapun saling mengucap “by-by” dan berjanji agar bisa bertemu kembali di “darat” dan menjaga akal tetap sehat.[]
*Peminat literasi digital.





