BANDA ACEH – Tindakan genosida yang dilakukan junta militer Myanmar kepada umat muslim etnis Rohingya di negara tersebut membuat berbagai elemen masyarakat di Indonesia mengutuk peristiwa itu. Salah satunya dari elemen Majelis Budhayana Indonesia (MBI) di Provinsi Aceh.
Pengawas MBI Provinsi Aceh, Yuswar, mengatakan, mereka telah membahas permasalahan krisis kemanusiaan di Myanmar dengan melakukan pertemuan antarvihara yang ada di Banda Aceh dan di Provinsi Aceh pada 29 Agustus 2017 lalu.
“Hasil pertemuan itu, kami sebenarnya sudah mengirim surat kepada Ketua Umum DPP Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) di Jakarta,” kata Yuswar dalam konferensi pers di Vihara Bhakti, Banda Aceh, Aceh, Senin, 4 September 2017.
MBI menilai kekerasan dan pembunuhan di negara Myanmar, yang mayoritas masyarakatnya pemeluk Budha, tidak pantas dilakukan di negara Buddhis. MBI bahkan menyebutkan tindakan yang dilakukan oleh satuan keamanan Myanmar adalah biadab dan pengecut.
“Keluarga Buddhayana Indonesia dan Majelis Buddhayana Indonesia mengutuk keras kekerasan yang terjadi di Rakhine, Myanmar. Bagaimana mungkin pasukan bersenjata lengkap hanya berani dengan wanita dan anak-anak, bahkan bayi,” kata Yuswar.
“Myanmar tidak pantas lagi mengklaim sebagai negara Buddhis. Apa yang dilakukan Pemerintah Myanmar sama sekali tidak menunjukkan ajaran agama, jadi kita tidak menganggap negara tersebut sebagai negara Buddhis, ujarnya lagi.
Yuswar juga mengungkapkan, membunuh merupakan larangan yang sudah disebutkan dalam Pancasila Buddhis. Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya sudah melanggar aturan tersebut dan akan menerima karma.
“Perbuatan biadab dan pengecut itu akan memetik karma yang sangat berat sehingga mereka akan terlahir di neraka yang paling jahat,” ungkap Yuswar yang juga Kepala Yayasan Vihara di Aceh.
Menurutnya, Majelis Buddha di dunia juga menganggap Biksu Ashin Wirathu yang berperan dalam genosida Rohingya bukan penganut Buddha sehingga perbuatan dan tindakannya tidak layak ditiru serta tidak mencerminkan seorang agamawan.
Dalam konferensi pers itu, Yuswar juga mengimbau kepada semua umat Budha di Indonesia agar bahu-membahu mengumpulkan bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya dengan berbagai komponen masyarakat dan lintas agama. Dia juga menambahkan, seharusnya Pemerintah Myanmar belajar toleransi dari Aceh yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam.
Kalau di Aceh belum pernah ada konflik (agama Budha) dengan masyarakat di sini (muslim). Kita tetap hidup rukun, bahkan toleransi masyarakatnya cukup tinggi, katanya lagi.
Dia mengatakan, Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) juga mendorong pemerintah agar turut aktif memfasilitasi perdamaian di Myanmar. Salah satu caranya melalui forum ASEAN dan PBB.
“Sehingga kekerasan dapat segera dihentikan, sehingga tercapai keamanan dan perdamaian demi kepentingan umat manusia, kata Yuswar.[] (*sar)





