LHOKSEUMAWE – Kepala Hubungan Masyarakat Universitas Malikussaleh (Unimal) Masriadi menyatakan perguruan tinggi negeri ini tidak berkepentingan terhadap Akademi Kesehatan (Akkes) milik Pemerintah Aceh Utara.
Perlu kami pertegas, Unimal tak berkepentingan terhadap kampus itu baik mahasiswa dan asetnya. Terserah Pemkab Aceh Utara mau dikemanakan kampus itu. Kampus itu kan milik mereka, kemana mau (diserahkan) terserah mereka sajalah, kata Masriadi menjawab portalsatu.com, Jumat, 5 Mei 2017.
Dia menyebutkan, kesimpulan hasil diskusi Unimal terkait status Akkes itu ke depan, sangat disesalkan kalau ada kampus yang ditutup.
Tapi, kalau pun mau ditutup, ya itu hak mereka (Pemkab Aceh Utara), hak bupati selaku pemimpin tertinggi di daerah ini. Mana tahu, setelah mereka analisis, ada baiknya menutup satu kampus, itu kan analisis mereka. Kita tidak tahu dan tak mau tahu, tegas Masriadi.
Sejak awal, kata Masriadi, Unimal bahkan menyarankan kampus itu diserahkan ke Kementerian Kesehatan RI, bukan kepada Kementerian Ristek Dikti.
Sehingga kampus bisa lebih besar dan menjadi kampus kedinasan. Boleh dong ya, kita menyarankan. Ingat, sifatnya menyarankan. Bukan mencaplok urusan pemerintah, ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib alias Cek Mad mengaku “setuju” saja dengan permintaan mahasiswa agar Akkes diserahkan kepada Unimal. Namun, kata dia, tidak dengan aset berupa lahan, bangunan atau properti di dalamnya. Ia berdalih lahan kampus Akkes milik Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia.
Prodi-prodi (program studi) di Akkes silakan diambil Unimal, tapi tidak dengan asetnya. Karena bila nanti ada pengembangan rumah sakit, Pemkab akan kewalahan. Jadi, ini menjadi perhatian Pemkab juga. Bila itu diterima, saya sepakat, ujar Cek Mad menjawab portalsatu.com lewat telpon seluler, 4 Mei 2017.[]

