BANDA ACEH – 150 Akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri akan mempresentasikan karya ilmiahnya di dua konferensi internasional yang berlangsung di Universitas Syiah Kuala pada Selasa-Kamis, 4-6 Oktober 2016.
Pertemuan akbar para ilmuwan dari berbagai lintas ilmu tersebut digelar dalam dua konferensi internasional dengan mengusung nama Konferensi Internasional Tahunan atau Annual International Conference (AIC) Unsyiah ke-8 dan Konferensi International Ilmu Matematika, Statisika dan Aplikasinya, atau dikenal International Conference on Mathematics, Statistics and their Applications (ICMSA) yang memasuki tahun ke 12.
Selain berdiskusi secara ilmiah, pada konferensi ini Unsyiah juga menggagas adanya kerjasama lebih lanjut antar para akademisi Unsyiah dan universitas- universitas lain.
Kita harapkan dengan adanya konferensi ini, akan ada penelitian bersama antar para peneliti dan juga dapat melakukan kuliah bersama antar universitas, atau kuliah dengan menggunakan fasilitas teknologi informasi atau video conference, kata Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal, melalui siaran pers.
Di samping itu, terserlenggaranya konferensi internasional AIC-ICMSA 2016 ini diharapkan dapat memperkuat kerjasama jejaring universitas dalam membangun paradigma baru perguruan tinggi yang tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat unggulan untuk inovasi pengetahuan dan riset serta sebagai academic enterprise. Unsyiah sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia, diharapkan dapat menjadi pusat peradaban untuk transformasi masyarakat dan menjadi partner global bagi pengembangan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Konferensi ini juga diharapkan bisa menjadi media untuk diseminasi hasil riset yang inovatif dan implementatif demi kepentingan masyarakat dan bangsa,” kata Prof. Samsul yang juga Ketua IMT-GT University Network yang memiliki jaringan kerjasama dengan 21 universitas di tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand,
Sementara itu, Ketua Panitia AIC-ICMSA 2016, Dr. Syaifullah Muhammad, menjelaskan urgensi diselenggarakannya pertemuan ilmiah ini dalam konteks Aceh adalah karena Unsyiah atau Darussalam merupakan jantung hati masyarakat. Jika perguruan tinggi adalah jantung hati, maka dosen, peneliti, mahasiswa serta civitas akademika lainnya kata dia adalah aliran darah, yang membawa kesegaran dan energi baru untuk perubahan yang lebih baik melalui ilmu pengetahuan.
Di sinilah urgensi konferensi ini. Di mana ilmu dibangun, didiskusikan, diuji, disebarkan, dan diterapkan untuk masyarakat dan bangsa kita.[]



