Upaya Lamteumen Timur Menjadi Gampong Budaya
Oleh: Thayeb Loh Angen
Sekretaris Majelis Seniman Aceh (MaSA)
Banda Aceh merupakan sebuah kota tua yang memiliki sejarah sepanjang selama satu milenium terakhir. Kebudayaannya sejak saat itu mulai bersentuhan dan beradaptasi dengan Islam.
Sampai kini, benda-benda budaya dan arkeologi hasil peradaban dari beberapa zaman di Aceh, banyak tersisa. Di antaranya adalah batu ukir bernilai seni tinggi yang berserakan di seluruh kota Banda Aceh. Sebagian dirawat, sebagian ditelantarkan.
Situs-situs zaman kesultanan yang memiliki nilai arsitektur tinggi, seperti pinto kop dan gunongan, berdiri gagah di tengah kota, sebagai saksi yang menceritakan apapun dengan keberadaannya. Bahwasanya, bangunan itu ada karena ada pemesan, arsitek perancang, pekerja, penyedia bahan, yang semuanya bekerja sama menghasilkan sebuah mahakarya seni di zamannya.
Selain benda budaya, kota ini pun memiliki nilai-nilai budaya yang kental. Setiap harinya, ada puluhan bahasa dituturkan di Kota Banda Aceh. Yang lebih menarik, Banda Aceh sendiri memiliki beberapa dialek bahasa Aceh tersendiri.
Namun, apakah bahasa Aceh di kota Banda Aceh masih diajarkan kepada generasi muda? Generasi tua memahami bahasa Aceh, tetapi apakah itu masih diwariskan kepada generasi muda di kota ini?
Dengan pemerintahan yang rapuh seperti Pemerintah Aceh dan Kota Banda Aceh sekarang, mengharapkan lestarinya kebudayaan di ibukota Banda Aceh terjadi begitu saja, merupakan hal yang tidak mungkin.
Oleh karena itu, masyarakat Kota Banda Aceh sendiri, bagi yang mencintai budaya, pun bergerak secara pelan-pelan.
Sebagai contoh, mari kita lihat yang dilakukan oleh masyarakat Gampong Lamteumen Timur, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Mereka mulai meletakkan dasar-dasar rencana tentang menajdikan gampong model pembangunan, dimulai dengan menjadikan Lamteumen Timur sebagai gampong budaya.
Mereka memulai impian menjadikan masyarakat Gampong Lamteumen Timur sebagai gampong budaya, dengan peusijuek keuchik terpilih periode 2021-2027, Riazil, pada Ahad, 6 Februari 2022.
Sekelompok laki-laki di sana, menjemput keuchik Riazil dari rumahnya, seperti mereka seorang linto baro (pengantin laki-laki) untuk diantar ke dara baro.
Riazil kemudian dipayungi dan dibawa bersama oleh masyarakat ke kantor keuchik setempat. Bersamaan itu, sepanjang jalan menuju kantor keuchik untuk dipeusijuek, selawat pun dikumandangkan bersama-sama.
Jika kaum laki-laki menjemput Riazil, maka kaum ibu menjemput Yudhit Putri Auliana, istri Riazil. Setibanya di halaman kantor keuchik yang sudah dirias, mereka didudukkan di pelaminan bersama istrinya.
Keuchik dan istrinya dipeusijuek oleh tokoh masyarakat setempat. Setelah acara peusijuek selesai, masyarakat makan siang bersama dengan menu kuwah beulangong, kari khas Banda Aceh dan Aceh Besar yang terkenal.
Sekarang, masyarakat Gampong Lamteumen Timur merencanakan beberapa kegiatan untuk mewujudkan gampong tersebut sebagai gampong budaya.
Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan diharapkan dapat menguatkan kebudayaan di kota yang nilai sejarahnya perlu terus digali dan dimanfaatkan dengan baik ini.[]







