BANDA ACEH – Menyeruput kopi sepertinya sudah menjadi  tradisi dan rutinitas masyarakat Aceh. Tak heran jika “Si hitam pahit manis” ini menjadi minuman di kala penikmat bersenda gurau dengan kerabat. Bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai alternatif untuk mendinginkan suasana menyelesaikan masalah saat berada di warung kopi.

Penikmat kopi sangatlah beragam, dari kalangan tua muda, pria wanita banyak yang suka minuman satu ini. Begitu juga kedainya, hampir di setiap sudut kota Banda Aceh bisa ditemukan. Tentunya dengan racikan yang berbeda pula di setiap kedai kopi itu.

Hampir meratanya kedai di setiap sudut kota hingga tingginya peminat si hitam pekat ini pula yang membuat Kota Banda Aceh menobatkan diri sebagai Kota 1001 kedai kopi.

Berbicara tentang kopi di Aceh mungkin bukan hal yang tabu, pasalnya selain mudah ditemui, budaya minum kopi itu sudah turun menurun masyarakat Aceh. Bahkan ada pula yang mengatakan “Jep kupi dilee ngat bek pungo”, yang menjadi pameo di kota ini sejak beberapa waktu terakhir.

Seusai melaksanakan salat tarawih, pandangan sebagian orang tertuju kepada salah satu kedai kopi di kawasan Jalan Nyak Makam, Banda Aceh. Kedai tersebut tampak disesaki pengunjung, parkir kendaraan yang berada di depannya terlihat menjalar hingga ke badan jalan.

Pengunjung yang sangat menarik perhatian malam itu adalah Dhani. Dia  tampak masih memakai kain sarung dan berpeci. Dhani mengatakan kepada Portalsatu.com, selesai melaksanakan salat tarawih dia langsung ke kedai kopi.

“Lon kujak leuh salat tarawih, meunyoe hana keunong kupi hana pah lom, Bang,” ujar Dhani.

Dhani mengatakan “ngopi” itu sudah menjadi kegiatan rutin karena setelah seharian berpuasa dan menjalani rutinitas pekerjaan, minum kopi adalah sarana pelepas penat sesaat dan berkumpul dengan teman selesai salat tarawih,” katanya.

Pengunjung lainnya yaitu Nasrul, dia mengatakan bahasa “Jak tajeep kupi” dengan rekannya sudahlah biasa. Menurutnya, di hari biasa bahkan “ngopi” bisa hingga tiga kali sehari. Makanya suasana minum kopi setelah salat tarawih ini sangat dinikmatinya,” kata Nasrul.

Menurutnya kopi yang sering diteguk ialah kopi sanger. Suguhan kopi ini adalah perpaduan rasa kental susu dan pahitnya kopi. Dia menambahkan, demi secangkir kopi sanger ini dirinya bahkan pergi dari jarak yang terhitung jauh dari rumahnya. Iitu semua demi racikan yang sedap dan mantap,” ujarnya.

Di sisi lain, Izul pelayan kedai kopi tersebut menyebutkan, kedainya dibuka selesai salat tarawih, setelah dibuka langsung dipadati pengunjung.

“Rata-rata pengunjung itu memesan kopi dengan bermacam racikan. Bahkan kopi yang saya antar malam ini mencapai puluhan hingga ratusan gelas,” kata Izul.[](tyb)

Laporan Ramadhan