LHOKSEUMAWE – Sebagian orang berkemampuan secara ekonomi merasa berat untuk menginfakkan uang (hartanya) di jalan Allah lantaran hal itu ibarat mendaki gunung. Namun, ada orang mau dan mampu melakukan itu karena memiliki landasan yang kuat, yakni berharap balasan Allah SWT., di akhirat kelak.
“Dalam salah satu ayat Alquran disebutkan, kerja memberi ini seperti orang yang naik ke tempat yang tinggi. Bukan dengan jalan santai, tapi tergopoh-gopoh, cepat, dan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit, karena semakin menanjak kita akan semakin sulit, seperti orang naik gunung,” kata Ustaz H. Syahrial Razali Ibrahim, Lc., M.A., Ph.D., dalam ceramahnya saat penyerahan rumah untuk Nek Baren, 76 tahun, kaum duafa di Gampong Uteun Bayi, Lhokseumawe, 24 Maret 2018, sore.
Ustaz Syahrial melanjutkan, “Orang yang naik ke tempat yang tinggi, dia akan terengah-engah. Dan ini menunjukkan beratnya perjalanan yang ditempuh. Nah, begitulah kira-kira orang yang berinfak di jalan Allah. Orang yang memberi ini berat”.
Ustaz Syahrial akrab disapa Teungku Balee di Lhokseumawe merupakan guru pengajian dan dai. Saat ini, ia juga menjabat Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Lhokseumawe. Ustaz Syahrial diundang oleh pihak Komunitas Bedah Rumah Kaum Dhuafa “Al-Birru” untuk menyampaikan tausiyah pada acara penyerahan rumah sederhana untuk Nek Baren. Rumah itu merupakan rumah kesembilan yang berhasil dibangun oleh Komunitas Al-Birru untuk kaum duafa di sejumlah gampong di Lhokseumawe sejak Januari 2018.
Komunitas Al-Birru diketuai Ustaz Ikhwansyah, M.A., bersama Jalaluddin, SKM., M.Kes. (bendahara), dan Herman Ibrahim (koordinator lapangan), menggalang dana dari berbagai kalangan untuk membangun rumah kaum duafa. Selain infak berupa uang, komunitas ini juga menerima sumbangan bahan bangunan seperti seng, triplek, kayu, paku, dan lainnya.
Ustaz Syahrial menjelaskan, salah satu ayat dalam surah Al-Baqarah, menyebutkan, ciri orang muttaqin adalah mereka menyisihkan sebagian dari harta yang Allah berikan kepada mereka untuk kemudian diinfakkan di jalan Allah.
“Ini sebenarnya bukan kerja mudah. Karena kerja ini perlu landasan yang kuat dalam hati seseorang untuk kemudian mereka mau berbuat. Memberi ini persoalan yang sulit dilakukan manusia, karena manusia sangat cinta kepada materi. Karena kecintaanya yang begitu berlebihan, itu cenderung membuat mereka untuk menahan materi ini, lalu kemudian dia tidak akan berbagi dengan siapapun,” ujar Ustaz Syahrial.
Menurut Ustaz Syahrial, ketika ada sebagian orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah—seperti membantu kaum duafa—hal itu sesungguhnya karena ada sesuatu yang mendorong orang tersebut untuk memberi. “Ada orang yang memberi, ada orang yang peduli, karena ada satu landasan sehingga mampu menerobos tempat yang tinggi, tempat yang sulit diterobos oleh banyak orang. Dia mau melakukan, bahkan dia mampu melakukannya,” katanya.
Ustaz Syahrial melanjutkan, orang beriman kepada Allah meskipun sedang dalam kondisi kekurangan secara ekonomi tetap akan berusaha menolong orang lain. “Meskipun dalam kondisi sempit, ketika tidak mampu, kita akan mengajak orang lain. Orang mukmin ketika dia tidak mampu dia akan mencari orang yang mampu, karena dorongan memberi itu tinggi,” ujarnya.
“Orang beriman itu dia tidak hidup atau tinggal sendiri, dia betul-betul seperti yang Allah ciptakan sebagai makhluk sosial, dia betul-betul bersosial. Dia tidak eksklusif, tidak membangun sebuah menara gading lalu kemudian tinggal di dalamnya,” kata Ustaz Syahrial.
Ustaz Syahrial menambahkan, dalam salah satu ayat Alquran juga disebutkan bahwa orang bertakwa itu rela menghabiskan hartanya untuk membantu saudaranya yang benar-benar membutuhkan pertolongan. “Itu landasannya karena dorongan yakin kepada balasan Allah di hari kiamat. Dan itu yang menyebabkan para sahabat nabi memberi (membantu orang yang membutuhkan) sampai para sahabat itu wafat, meskipun mereka sendiri dalam kondisi kekurangan”.
Oleh karena itu, Ustaz Syahrial mengingatkan pihak Komunitas Al-Birru, “Mudah-mudahan landasan kita ini betul-betul karena Allah SWT. Karena kalau bukan itu landasan kita, maka pekerjaan ini akan berhenti, tidak hari ini suatu saat akan berhenti. Sementara orang yang membutuhkan kepedulian, tidak akan pernah berakhir”.
“Saya kira, kita tidak perlu berharap balasan dunia karena sudah pasti itu. Jadi, ketika orang berbuat untuk akhirat, dunia akan mengikut. Tapi ketika orang berbuat untuk dunia, akhirat akan lari,” ujar Ustaz Syahrial.
Ustaz Syahrial turut mengutip sebuah hadis nabi, “Siapa yang membantu orang mukmin di dunia ini, Allah akan membantu kita nanti pada hari kiamat”.
“Saya kira itu yang harus menjadi spirit kita dalam membantu,” kata Ustaz Syahrial.[](idg)






