BANDA ACEH – Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh Teungku Malik Mahmud Al-Haythar mengungkapkan, sejarah Aceh banyak tersebar di seluruh dunia. Namun, sayangnya banyak sejarah itu yang sudah disamarkan, bahkan dihilangkan. Untuk itu, perlu upaya penyelamatan dan pelurusan sejarah itu sendiri.
“Perlu upaya penggalian sejarah dan menulisnya apa adanya, sesuai versi yang sebenarnya,” ujar Wali Nanggroe Aceh saat menerima silaturrahmi sekaligus penyerahan buku “Kemilau Budaya Aceh” karya Harun Keuchik Leumiek, di ruang rapat Wali Nanggroe, Kantor Majelis Adat Aceh (MAA), Rabu 8 Juni 2016.
Wali Nanggroe mengaku, saat ini banyak catatan dan benda bersejarah di Aceh sudah hilang dibawa keluar daerah. Benda-benda itu, sangat sulit ditelusuri. Kecuali benda-benda yang ada di museum, baik di Belanda, Malaysia, Spanyol yang masih terjaga dan terawat dengan baik.
Wali Nanggroe mengaku kagum dan terharu, ternyata masih ada orang yang masih peduli terhadap khazanah budaya Aceh. Upaya yang dilakukan Harun Keuchik Leumiek ini, perlu mendapat dukungan luas dari semua kalangan, termasuk pemerintah Aceh.
“Ini cara kita bangkitkan harkat dan martabat bangsa Aceh,” ujar Malik Mahmud menanggapi buku yang ditulis Harun dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris ini.
Dikatakan, banyak benda bersejarah dan berbagai khazanah budaya Aceh, banyak hilang akibat perang berkepanjangan, hingga konflik sesama. Sebelumnya terlibat peperangan besar mulai dengam Portugis, Belanda. Banyak juga benda-benda bersejaran Aceh, yang dibawa ke luar negeri seperti Belanda.
“Khazanah yang masih banyak di negeri orang. Bagi saya, biar berada di luar negeri saja. Karena mereka sangat baik merawat dan menjaganya,” ujar Malik Mahmud, dalam siaran pers Keurukon Katibul Wali.
Dikatakan, di museum Tentara Belanda, ada tersimpan meriam asal Aceh. Di museum ini dijaga oleh Tentara Belanda dengan pakaian ala marsose dengan memegang senjata layaknya masa perang zaman dulu. Itu dilakukan karena rasa bangga mereka, pernah bertempur di Aceh.
Dalam kondisi Aceh yang sudah baik, lanjutnya, Aceh harus bisa jalin hubungan baik dengan Belanda. Sehingga nanti suatu saat, bila Aceh sudah benar-benar siap, semua benda bersejarah tersebut bisa dikembalikan dan dirawat di Aceh.
“Kita akan telusuri, semua sejarah Aceh. Seperti di Turki, Spanyol, Belanda, Inggris. Sejarah harus kita buka, jangan ada lagi yang ditutup-tutupi. Sejarah Aceh, adalah sejarah kita,” ujar Wali Nanggroe.
Dalam pertemuan yang sederhana ini, Wali Nanggroe juga mengungkapkan hubungan kerajaan Samudera Pasai, di Aceh Utara saat ini dengan Kerajaan Tamasek di Singapure. Hubungan antar dua kerajaan besar ini sudah terbangun sejak abad 14.
Dikatakan, hubungan Aceh (Keraajaan Samudera Pasai) dengan Tamasek, Singapure ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya koin (mata uang Kerajaan Samudera Pasai) di pinggir sungai di Singapure, saat dilakukan pembangunan di daerah tersebut.
“Satu buah koin itu kini disimpan dengan baik di Singapure. Meskipun hanya satu buah, Pemerintah Singapura percaya Aceh dan Tamasek sudah mempunyai hubungan perdagangan,” jelas Malik Mahmud.
Pertemuan yang difasilitasi Keurukon Katibul Wali ini diakhiri dengan penyerahan buku dari Harun Keuchik Leumiek kepada PYM Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Alhaythar dan penyerahan cinderamata dari Wali Nanggroe kepada Harun Keuchik Leumik, turut hadir dalam di antaranya Tim penyusun buku Kemilau Budaya Aceh, Katibul Wali Drs Sutrisno MM serta Para Kabag dijajaran Keurukon Katibul Wali serta perwakilan MAA.
Budayawan dan tokoh pers Aceh, Harun Keuchik Leumiek, telah menyelamatkan benda bersejarah, dan khazanah budaya Aceh ini dilakukan sejak tahun 1980-an. Ini semua dilakukan demi masa depan Aceh yang lebih baik.
Dari sejumlah benda dan khazanah benda bersejarah tersebut, di antaranya berupa manuskrip dan kitab kuno. Koleksi musium emas, peran, suasana yang usia ratusan tahun. Begitu juga senjata Aceh, rencong dan siwa yang kini tak dibuat lagi.
“Ada juga Al-quran tulisan tangan berusia ratusan tahun, yang jumlahnya 13 buah,” jelas Harun sambil menambahkan, di rumahnya yang kini menjadi museum juga tersimpan 1.000 dirham dari kerajaan Pasee dan Aceh Darussalam pada abad ke 13 dan 17.
Guna menjaga kelestarian dan keselamatan benda ini berlanjut, menurut Harun yang juga tokoh pers di Aceh ini, sudah mewasiatkan kepada anak dan cucunya, agar benda tersebut tidak boleh dijual belikan dan harus dipelihara, karena ini khazanah budaya yang harus dijaga dan dipelihara.[]

