Selasa, Juni 25, 2024

Yayasan HAkA Minta APH...

BANDA ACEH - Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh...

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...
BerandaNewsWanita Bercadar dalam...

Wanita Bercadar dalam Perspektif Syariat Islam

SATU dari sekian fenomena yang terjadi dalam masyarakat juga telah dilakukan oleh sebagian besar wanita berupa penutup aurat yang bernama cadar. Dalam hal ini masalah cadar adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Akar dari permasalahan ini berawal dari perbedaan apakah wajah dan telapak tangan termasuk aurat?

Di sini ulama terbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok memiliki alasan secara terperinci tapi secara ringkas dua kelompok tersebut adalah: Pertama, menganggap wajah dan telapak tangan termasuk aurat. Pendapat ini adalah pendapat madzhab Hambali dan sebagian ulama mazhab Syafi'i. Kedua, menganggap wajah dan telapak tangan tidak termasuk aurat. Sehingga tidak wajib hukumnya bagi wanita menutup muka dan telapak tangannya. Pendapat ini adalah pendapat ulama madzhab Maliki, Hanafi, dan sebagian ulama Syafi'iyyah.

Hanya saja kebolehan membuka wajah menurut kelompok ini disyaratkan harus aman dari fitnah.

Keindahan dan Kecantikannya tidak nampak sehingga menimbulkan perasaan yang bukan-bukan dalam hati kaum lelaki dan harus dalam sangkaan bahwa orang yang melihatnya bukan orang-orang yang tidaku memperhatikan syariat. Hanya saja ada beberapa poin yang mereka sepakati tentangnya. Di antaranya adalah kesepakatan, pertama, Tidak boleh membuka aurat selain wajah dan telapak tangan di depan lelaki lain.

Kedua, Juga tidak boleh membuka wajah dan telapak tangannya apabila mengetahui akan ada orang yang memandang padanya dengan pandangan yang dilarang oleh Allah, dan tidak bisa menghindari kemungkaran ini sela in dengan bercadar.

Sementara itu penjelasan ulama mazhab dalam masalah ini di antaranya: Pertama, Imam Haramain, salah satu dari ulama syafi'iyyah berkata, “Termasuk salah satu kesepakatan kaum muslimin adalah larangan bagi kaum wanita keluar dengan wajah terbuka'' ( Mughni Al-Muhtaj Juz 3 Hal 129).

Kedua, Dalam madzhab Maliki, Ibnu Khuwaidz Mindad berpendapat bahwa wanita yang cantik dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah kalau membuka wajah dan telapak tangan, maka wajib ditutupi ( Tafsir Qurthubi Juz 2 Hal.228).

Ketiga, Dalam kitab Hanafiyyah dijelaskan, “Gadis dilarang menampakkan wajahnya di depan laki-laki lain bukan karena wajah itu aurat, akan tetapi karena takut terjadi fitnah, dan tidak boleh memandangnya dengan syahwat” ( Ad-Darul Mukhtar 12/284).

Keempat, Adapun pendapat madzhab Ahmad bin Hambal, jelas muka dan telapak tangan termasuk aurat secara mutlak.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulan bahwa semua madzhab, kalau wanita itu masih muda dan akan menimbulkan kemungkaran seperti pandangan lelaki hidung belang, maka wajib hukumnya memakai cadar. Semua sepakat tentang bolehnya membuka wajah dan telapak tangan dalam keadaan darurat, seperti berobat dan menjadi saksi. Itulah poin di antara yang disepakati oleh ulama madzhab. Sedang masalah perselisihanya adalah apakah wajah dan telapak tangan termasuk aurat atau bukan.[]

Baca juga: