ACEH UTARA – Warga menanam bibit kelapa di jalan Gampong Alue Awe, Kecamatan Geureudong, Aceh Utara, Jumat, 4 Oktober 2019. Itu dilakukan warga sebagai bentuk protes kepada pemerintah yang dinilai “menutup mata” terhadap kondisi jalan rusak di gampong tersebut. Padahal, jalan itu penghubung antara Mbang, Geureudong Pase, dengan Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat  Kecamatan Geureudong Pase (FORKOMPAS), Adly Jailani, mengatakan, masyarakat merasa kesal dengan kondisi jalan yang sudah bertahun-tahun rusak parah, tapi tidak kunjung diperbaiki pemerintah. “Masyarakat mengaku sudah merasa sangat jenuh menanti realisasi janji-janji pemerintah yang selalu diucapkan setiap Musrenbang maupun menjelang Pemilu. Sehingga masyarakat memilih menyindir dengan cara seperti itu,” kata Adly dalam siaran persnya, Jumat.

Menurut Adly, aksi itu spontan dari masyarakat tanpa ada yang mengkoordinirnya. Dia berharap sindiran semacam itu bisa menggugah pengambil kebijakan di pemerintahan. “Itupun jika mereka masih punya rasa malu dengan janji-janji yang pernah mereka ucapkan di hadapan rakyatnya,” ucapnya.

“Selama ini masyarakat tidak tahu harus mengadu kemana lagi, karena setiap usulan yang diperjuangkan melalui Musrenbang selalu raib (mengambang) di tengah jalan,” ujar Adly. 

Dia menyebut jalan berlubang itu berlumpur saat musim hujan dan berdebu kala kemarau. Belum lagi jarak tempuh antara Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Geureudong Pase dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Lhokseumawe mencapai 25 Kilometer. Sehingga, jika ada pasien atau warga mengalami kegawatdaruratan, kondisinya akan sangat mengkhawatirkan lantaran butuh waktu lama saat dirujuk dari Puskesmas ke RSUD.

“Banyak juga Aparatur Sipil Negara (ASN), umumnya tenaga pengajar yang hampir seluruhnya berasal dari luar Kecamatan Geureudong Pase sudah mengeluh dan minta pindah (tugas). Karena rata-rata mereka sudah sering mengalami kecelakaan di jalan yang dipenuhi lubang tersebut,” ujar Adly.

Adly menambahkan, jika banyak tenaga pengajar pindah tugas, maka akan sangat berpengaruh kepada kualitas pendidikan di Kecamatan Geureudong Pase. Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah segera membenahi jalan tersebut dari Keude Punteuet, Lhokseumawe hingga Gampong Suka Damai, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, diperkirakan sepanjag 25 Kilometer. 

Menurut Adly, masyarakat juga berharap agar segera dituntaskan pembangunan jalan alternatif ruas Alue Glem – Simpang Ubi – Pinto Karoe – Keude Mbang, sebagai jalur keluar masuk alat berat dan kenderaan dengan tonase tinggi, agar jalan strategis Mbang – Punteuet tidak cepat rusak setelah diperbaiki.

Adly menjelaskan, ruas jalan Cot Matahe – Mbang (antara Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe -Geureudong Pase, Aceh Utara) itu merupakan jalan strategis kabupaten, dan pembiayaannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Aceh. Jalan itu terakhir dilakukan pengaspalan pada tahun 2012 lalu dengan sistem multiyears (tahun jamak). Itu pun baru dibangun setelah masyarakat Geureudong Pase berdemo serta memblokir jalan tersebut. 

“Aksi massa itu terjadi pada 20 Juli 2011, di perbatasan Kecamatan Geureudong Pase dengan Syamtalira Bayu. Setelah hampir delapan tahun berlalu, kini kondisi jalan tersebut sudah hancur kembali dengan 'lubang maut' terlihat menganga di mana-mana,” ungkap Adly.

Sementara itu, salah seorang perwakilan masyarakat Gampong Alue Awe, Azhari (31), menyebutkan, pihaknya akan memblokir jalan apabila aksi protes ini tidak segera direspons oleh pemerintah. “Itu hanya permulaan saja. Kami akan menggalang massa yang lebih besar dan memblokir jalan bila aspirasi kami ini tidak di dengar oleh pemerintah,” ujar Azhari.[](rilis)