SUBULUSSALAM — Puluhan masyarakat Kampong Darussalam, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam diberikan pelatihan mitigasi konflik antara manusia dengan satwa liar harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang digelar BKSDA Aceh melalui Seksi Konservasi Wilayah II Kota Subulussalam, Senin, 11 Desember 2017.
“Training mitigasi konflik satwa liar ini bertujuan agar masyarakat mandiri dalam penanggulangan konflik satwa liar, khususnya harimau sumatera,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Kota Subulussalam Hadi Sofyan kepada portalsatu.com/, Kamis, 14 Desember 2017.
Pelatihan tersebut sangat penting untuk membekali masyarakat cara mengusir harimau, mengingat daerah Darussalam, Longkib, Kota Subulussalam sampai ke Desa Mukti Jaya, Singkohor, Aceh Singkil termasuk kawasan rawan konflik satwa liar karena wilayah tersebut daerah lintasan harimau.
Anggota Seksi Konservasi Wilayah II Subulussalam BKSDA Aceh Ria Kamba menambahkan, dalam kegiatan tersebut, masyarakat dilatih teknis mengusir harimau dengan cara meletuskan mercon ataupun meriam paralon.
Selain menggelar kegiatan training mitigasi konflik satwa liar, BKSDA Aceh juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Pasar Rundeng Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam tentang pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada, Rabu, 13 Desember 2017.
Hadi Sofyan menyebutkan, kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan pemahaman kepada masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, mengingat masyarakat Pasar Rundeng berbatasan langsung dengan kawasan tersebut.
Pelatihan mitigasi itu terlaksana dukungan program Biodiversity Conservation and Climate Protection in the Gunung Leuser Ecosystem (BCCPGLE) Aceh-KfW Jerman bekerjasama dengan BKSDA Aceh.[]



