IDI RAYEK-  Pesta demokrasi atau pemilukada/pilkada Aceh sudah di depan mata. Sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda mulai merapat ke pentas politik dan bersiap-siap maju untuk merebut kursi Aceh 1.

Beberapa nama sudah muncul ke publik, mulai dari incumbent hingga sosok yang pernah berkuasa atau memimpin pemerintahan. Ada yang memilih jalur partai, ada pula lewat jalur independen (perseorangan). Mereka menyatakan akan maju sebagai bakal calon Gubernur Aceh dengan misi ingin membawa perubahan Aceh ke arah lebih baik.

Lantas bagaimana tanggapan masyarakat akar rumput tentang para kandidat Gubernur Aceh yang belakangan ini mencuat di media?

Wartawan portalsatu.com mewawancarai seorang perempuan penjual kopi di Idi, Aceh Timur, Irma Sari, Sabtu, 6 Februari 2016. Berikut selengkapnya:

Wartawan: Pilkada Aceh semakin dekat, apa tanggapan Anda/Kak Irma Sari terhadap para tokoh yang sudah menyatakan akan maju sebagai kandidat atau calon?

Irma Sari: Otomatis kita merasa senang ya, kemungkinan besar mereka nanti bisa mengubah suasana baru untuk Aceh serta masyarakatnya ke depan.

Yang penting jika mereka yang terpilih nanti, yang phon ile bek mbong, bek teukaboe, dan bek sampe na jalan lom yang pakek pula bak pisang lage kejadian di gampong lon barosa. Meunyoe mantong na yang model nyan hana kupue teuh, bah hana pemimpin keudeh.

Anda tahu nama-nama calon Gubernur Aceh yang sudah muncul sampai saat ini, siapa saja mereka?

Ya, tahulah kita kan kerja warung kopi, setiap hari ada koran masuk. Yang kami tahu itu Pak Zaini maju lagi, kemudian Apa Karya juga ada, terus yang berberewok lebat itu Muzakir Manaf, kemudian ada lagi Irwandi, pemimpin dulu, kan?

Apakah sudah ada yang minta fotokopi KTP Anda untuk bukti dukungan calon gubernur yang akan maju melalui jalur indepeden?

Oh, itu belum ada, kalau ada pun kita gak mau kasih, kita pilih nanti yang jelas-jelas aja. Kadang icok KTP geutanyoe hoe-hoe leh jiba enteuk, yo teuh.

Dari nama-nama yang sudah Anda sebut tadi, apa harapan atau pesan Anda kepada mereka?

Yang intinya kita harapkan yang lebih baik untuk Aceh. Tapi mereka itu kalau memang mau maju, jangan bawa janji-janji bangai yang tidak sanggup mereka penuhi nanti jika dituntut masyarakat.

Bek ile cet langet awai that, ube-ube sanggop pubuet mantong, dan ube ek geu peutanggong jaweueb, nyan sagai.

Kemudian jika nanti salah satu dari mereka yang terpilih, kami dari kaum hawa ini menginginkan kesejahteraan dan dihargai, dan pemerintah harus mengupayakan ada sebuah payung hukum yang kebal jika kekerasan menimpa terhadap kami.

Dan juga lapangan kerja yang layak, jika kami hari ini bekerja di tengah-tengah banyaknya lelaki, jika ke depan adalah  tempat kerja kami yang sesuai dengan tenaga kami. Dan satu lagi, pembayaran upah kerja kita yang layak.

Dalam memilih calon pemimpin apa kriteria yang Anda lihat atau pertimbangkan, apakah dari partainya, ketokohannya, gayanya atau perilakunya?

Kalau saya sendiri melihatnya dari perilakunya, kalau sikapnya baik otomatis apa yang dilakukannya juga baik. Tapi kita lihat juga nanti ke mana arah yang ramai memilih aja.

Jika pilkada sudah tiba, apakah Anda akan ikut memilih?

Ya, ikutlah, bagaimana gak ikut, kalau kita gak memilih berarti kita hidup tidak bermasyarakat. Apalagi itu adanya lima tahun sekali, kalau gak milih tahun ini, kita harus tunggu lagi lima tahun ke depan, dan itu pun kalau kita masih hidup.

 Apa harapan Anda kepada semua pihak terkait dalam pelaksanaan pilkada ke depan?

Yang penting, jangan ribut-ribut. Bek le na lage awai, ban ka pemilu ka mate ureung, meunyoe phon-phon kon ka gabuek, pasti pemimpin yang teupileh enteuk gabuek lom.

Menurut Anda, yang lebih pantas jadi gubernur, apakah orang yang sudah memimpin sudah memiliki pengalaman, atau orang baru?

Itu saya belum mengetahui ke mana nantinya, tapi kalau kita lihat sekarang saat ini masih ada yang kurang, tapi kalau orang baru kita juga gak berani bilang.

Kadang sama chit eunteuk, jiminah kulak jipeuduek cagruk. Tapi kita berharap siapa pun yang terpilih, minimal mereka mengetahui bidang agama, dan pendidikan umum, bek pemimpin bangai.[](tyb/idg)