Karya: Taufik Sentana*
Para pencari
menemukan pagi
dari selendang malam
yang dingin.
Sepi dan gigil sendiri
diantara harap,
takut dan khusu'.
Pagi menjelma selendang putih pujian
Dalam wirid hati dan lisan
Sebagai wangi keseharian.
Pagi adalah kembaran kebangkitan
Bagi yang gembira
atau nestapa.
Wirid pagi
mencahayai kembali
bagai matahari dengan sinarnya.
Sedetik di pagi ini
melampaui ribuan waktu
bila terbasuh
dalam tasbih dan puji
kepada Rabb semesta.
Lalu sore
dan malam nanti
Segala puji
tetap bagiNya.[]
*Penyuka prosa sufistik.



