BerandaNewsYang Kita Risaukan: Miskin Ilmu dan Adab!

Yang Kita Risaukan: Miskin Ilmu dan Adab!

Populer

Oleh: Taufik Sentana

Berkhidmat untuk pendidikan, dengan slogan menyempurnakan pengabdian.

Apa yang akan kita jawab, bila ada yang bertanya, apakah kita terlahir miskin? Jawabnya berpulang pada anggapan kita tentang miskin. Dan anggapan itu adalah akumulasi dari pengalaman  kita masing masing.

Bila miskin merupakan sifat (takdir bawaan), maka agaknya, kita telah berburuk sangka kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara yang Sempurna.

Sebab, bagaimanapun kondisi kita saat lahir, Ia telah melengkapi diri kita dengan segenap modal dasar dan fasilitas (di luar diri kita) yang cukup untuk menjalankan fungsi kemanusiaan kita selanjutnya.

Memang, pada tahapan setelah lahir, kondisi saat itu menjadi bagian penentu tentang beberapa kemungkinan resiko dan perngorbanan yang akan dijalani. Terutama adalah “akses” untuk mengakselerasi dan memberdayakan diri si yang baru lahir untuk mengisi tahun -tahun emasnya (Hakikatnya tidak mahal dalam periode ini, hanya karena banyak dari kita masih belum mengetahui dan hanya bertumpu pada materialistik).

Adapun akses yang penulis maksud tadi, tidak hanya akses ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok berupa fisik. Tapi juga akses untuk layanan ilmu (daya belajar anak sesuai perkembangannya), pembiasaan akhlak dan beberapa keterampilan yang sepadan dengan kecenderungannya.

Peran keluarga dan pemerintah.

Keluarga sebagai pranata sosial dan unit terkecil sebuah negara, sudah semestinya mendapat hak istimewa dalam mewujudkan visi bersama dalam bernegara, (semisal kalimat “keadilan sosial”).

Sehingga si anak yang telah lahir tadi memang benar benar tidak membawa “bakat miskin”, selama kondisi sosial kita memiliki “sarana jujur dan adil” yang dikelola untuk akses layanan perkembangan dasar si anak secara bertahap dan lengkap.

Agar kelak, si anak yang lahir dan tumbuh tadi tidak berpotensi pula menjadi miskin ilmu dan adab!. Inilah poin pokok yang menjadi kerisauan kita. Dan bukan semata aspek ekonomi. Karena untuk mengakses sistem ilmu (tidak mutlak kuliah di kampus mewah!), adab dan pembangunan karakter, masih banyak lembaga, guru dan para tengku yang  bisa melayani maksimal walau dengan dana minimal.

Diantara contoh yang mashur akan hal ini adalah kisah Imam Alghazali (beserta adiknya) yang lahir dalam keluarga miskin, tetapi sang ayah dan ibu selalu berkhidmat pada guru dalam sistem negara Islam saat itu, sembari berdoa (dengan berurai air mata)  agar si anak kelak menjadi sosok seperti guru yang mengisi majelis ilmu mereka.

 Belakangan kita mengetahui tentang apa yang diacapai Imam Alghazali: keilmuan, karir sebagai guru besar di kampus Nizamiyah Baghdad abad12, kesejahteraan dan karyanya di bidang Tasawuf.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya