Bentuk seperti di atas sering digunakan ketika akan salat (biasanya oleh imam). Bentuk tersebut juga sering dipakai saat khatib akan menaiki mimbar ketika Jumat. Isi pengumuman tersebut cukup jelas, yaitu selama salat berlangsung atau mulai dari khatib menaiki mimbar sampai dengan selesai salat Jumat, para jamaah diminta menon-aktifkan HP-nya.
Sepintas tak ada yang keliru dengan bentuk yang membawa HP harap dimatikan. Namun, bila dikaitkan dengan logika, sebenarnya bentuk itu salah kaprah.
Kesalahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Jika disebut yang membawa HP harap dimatikan, berarti subjek dalam kalimat tersebut adalah yang membawa HP dan predikatnya adalah harap dimatikan. Berdasarkan analisis ini, jelas sekali bahwa yang harus dimatikan adalah yang membawa HP (orangnya), bukan barangnya.
Kiranya orang dapat memahami bahwa yang harus dimatikan adalah HP dan bukan orangnya adalah bukan semata-mata dari satuan ujaran yang tampak diucapkan, melainkan juga dari konteks situasinya, yaitu salat Jumat yang akan segera dimulai dan diperlukan ketenangan kekhidmatan dalam pelaksanaannya. Jadi, jika ada handphone yang berbunyi, tentu saja ketenangan dan kekhidmatan itu akan lenyap.
Dengan demikian, meskipun ujaran yang diucapkan hanya berbentuk Yang membawa handphone harap dimatikan orang dapat memahami bahwa yang harus dimatikan adalah handphone, bukan orang.
Dapat pula diasumsikan bahwa terdapat bagian dari kalimat tersebut yang dilesapkan. Seharusnya kalimat tersebut jika tanpa pelesapan berbunyi Yang membawa handphone harap dimatikan handphone-nya. Jenis kesalahan yang sama juga terlihat pada konstruksi Yang menitip sepeda motor harus dikunci. Pada kalimat ini yang dikunci bukanlah sepeda motor, melainkan yang menitip sepeda motor.[]


