SUKA MAKMUE – Meninggalnya Munir, 51 tahun dan istrinya Nurul, 45 tahun, secara tragis pada Minggu dini hari, 24 April 2016 lalu membuat keluarganya kaget dan sedih. Semasa hidupnya Munir dikenal sebagai sosok yang pendiam.
“Kalau Bang Munir orangnya memang sangat pendiam, kalau dia diundang ke rapat dan gotong royong dia pasti datang, kalau tidak pun beliau tidak protes, beliau memang sosok yang baik, mendengar kepergian beliau saya sangat terkejut apalagi dengan cara begini,” salah seorang kerabatnya, Mawardi, saat ditemui di rumah duka, Senin, 25 April 2016.
Munir dan Nurul merupakan warga Gampông Mon Dua, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Keduanya tewas mengenaskan setelah barak yang mereka tempati di lokasi perkebunan milik PT. Wiratako di Gampông Krueng Itam, Kecamatan Tadu Raya, diduga dibakar oleh orang tak dikenal.
Geuchik Mon Dua M. Amir, juga mengeluarkan pernyataan senada. Munir katanya bekerja sebagai tukang seumeuplah di kawasan perkebunan tempatnya bekerja. Munir juga dikenal sangat baik dengan masyarakat.
“Selama saya menjabat sebagai geuchik beliau tidak pernah selisih paham dengan tetangga atau dalam keluarganya, memang sosok yang sangat pendiam, begitu juga sang istri,” katanya.
Keponakan almarhum, Afrizal, mengatakan jika korban tidak pernah memiliki musuh atau orang yang marah padanya karena tersakiti oleh almarhum.
“Gak ada musuh beliau bang, beliau sangat baik,” kata Afrizal.[](ihn)
Laporan Riski Bintang



