Kamis, Juli 25, 2024

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...
BerandaNewsNasionalYayasan Geutanyoe Sorot...

Yayasan Geutanyoe Sorot Pemindahan Pengungsi Rohingya ke Luar Aceh

LHOKSEUMAWE – Koordinator Kemanusiaan Yayasan Geutanyoe, Teuku Nasruddin, menyoroti kebijakan pemindahan pengungsi Rohingya ke luar Aceh yang terkesan aneh sehingga menimbulkan sederet pertanyaan. Pasalnya, sejak dari 2009 sampai sekarang, kebijakan seperti ini terus saja dilakukan sekalipun dari segi fasilitas akomodasi yang telah dibangun NGO nasional dan internasioanl sudah cukup memadai.

“Saat fasilitas penampungan selesai dibangun, tiba-tiba ditimpali kebijakan yang mengeluarkan pengungsi ke luar Aceh, menjadikan seluruh bangunan beserta fasilitas lainnya menjadi sia- sia. Padahal, kita tahu itu dibangun dengan anggaran yang besar dari para donatur,” ujar Nasruddin dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis, 29 April 2021.

Di sisi lain, jika ditilik dari latar belakang penyelamatan ‘manusia boat asal Myanmar’ oleh masyarakat nelayan Aceh sejak 2009, termasuk juga budaya, makanan, dan kebiasaan hidup lainnya, umumnya hampir sama dengan masyarakat Aceh. Tidak heran jika perlakuan masyarakat setempat terhadap para pengungsi Rohingya ini kemudian sangat manusiawi.

“Bahkan, setiap hari anak-anak Aceh ikut bermain bersama dengan anak-anak pengungsi di kamp, beberapa di antaranya berteman cukup dekat. Ini bukti masyarakat Aceh memperlakukan pengungsi seperti saudaranya sendiri. Belum terhitung selama penanganan di Aceh tersebut berbagai organisasi kemanusiaan baik lokal maupun internasional saling bahu-membahu mengelola kamp,” Nasruddin menambahkan.

Itulah sebabnya, Nasruddin merasa aneh, kenapa kemudian perlu ada kebijakan pemindahan pengungsi Rohingya dari Aceh selama ini ke daerah lain? Padahal, selama ini berbagai pujian telah datang, baik dari pemerintah sendiri maupun komunitas internasional menganggap penanangan pengungsi di Aceh sangat baik dan luar biasa.

Nasruddin turut menanggapi alasan pemindahan karena di Aceh ‘tidak aman’ sehingga banyak pengungsi yang melarikan diri. “Ini menyakitkan hati masyarakat Aceh pascakonflik yang masih sensitif dengan penggunaan istilah tersebut,” tegasnya.

Dia menambahkan, siapa yang bisa menjamin begitu para pengungsi dibawa keluar dari Aceh mereka nantinya tidak akan melarikan diri kembali menuju Malaysia? “Bukankah itu justru lebih dekat dengan jalur ilegal yang sering digunakan para penyelundup manusia?”

Agar kebijakan relokasi tidak terkesan terburu-buru, Nasruddin atas nama Yayasan Geutanyoë meminta pemerintah nasional maupun lembaga internasional untuk meninjau kembali kebijakan ini. Setidaknya hingga seluruh perencanaan kebijakan penanganan pengungsi luar negeri dalam jangka panjang berhasil dibangun para pihak.

“Kami khawatir, ini berakibat kurang baik untuk penyelamatan pengungsi kedepannya. Bisa saja masyarakat Aceh meminta pihak pemerintah maupun lembaga internasional untuk langsung membawa pengungsi ke luar Aceh, karena khawatir kejadian serupa akan terulang kembali dan berdampak terhadap bantuan yang diberikan menjadi sia-sia akibat ditinggalkan begitu saja,” tuturnya.

Demi menyelesaikan dilema kemanusiaan ini, menurut Nasruddin, sebaiknya Pemerintah Aceh (dan dengan persetujuan pemerintah pusat) mulai menetapkan sebuah lokasi tempat penampungan pengungsi secara berkelanjutan di Aceh. Sehingga ke depan penanganan terhadap pengungsi tersebut dapat dilakukan secara sistematis dan efisien, sejak dari penyelamatan hingga keberangkatan ke negara ketiga (penampung akhir).

“Bukankah Ramadan ini momen yang tepat untuk menetapkan sebuah reception centre atau pusat penanganan terpadu pengungsi asing di Aceh yang kebetulan secara geografis menjadi titik pertama yang dilihat para ‘manusia boat’ dari sisi barat Indonesia (Asia Selatan, Asia Tengah dan Timur Tengah). Alih-alih memindahkan mereka ke luar Aceh dan menghampakan seluruh capaian dan pengorbanan yang telah diberikan masyarakat, NGO, pemerintah setempat maupun donor,” pungkas Teuku Nasruddin.[](*)

Baca juga: