Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaBerita LhokseumaweYayasan Geutanyoe Sosialisasi...

Yayasan Geutanyoe Sosialisasi Hukum Adat Gampong kepada Pengungsi Rohingya

LHOKSEUMAWE – Yayasan Geutanyoe bersama IOM, Satpol PP dan WH serta aparatur Gampong Meunasah Mee Kandang, melakukan sosialisasi hukum adat gampong kepada pengungsi Rohingya di gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Lhokseumawe, Rabu, 13 Januari 2022.

Humanitarian Coordinator Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, mengatakan kegiatan ini sebagai upaya bersama untuk menambah pengetahuan para pengungsi Rohingya yang saat ini berada di BLK Kandang.

“Kita berharap para refugee tahu apa saja adat istiadat yang berlaku di Gampong Meunasah Mee, dan juga qanun-qanun syariat Islam yang sudah disahkan dan berlaku di Lhokseumawe,” ujar Nasruddin.

Geusyik Gampong Meunasah Mee, Saifuddin Yunus alias Pon Pang, mengatakan, “Kita tahu bahwa mereka (pengungsi Rohingya) bukan warga negara kita. Tapi, kita wajib memberitahukan kepada mereka apa saja norma-norma atau adat setempat. Mereka harus tahu semua aturan yang kita berlakukan di gampong kita ini”.

Kepala Satpol PP dan WH Lhokseumawe, Zulkifli, mengatakan bahwa qanun-qanun syariat Islam yang sudah berlaku di Kota Lhokseumawe juga berlaku kepada siapa saja umat Islam yang berada di wilayah Kota Lhokseumawe. “Oleh sebab itu, hari ini kami menyampaikan hal-hal apa saja yang tidak boleh di langgar oleh mereka (pengungsi Rohingya) selama mereka berada di wilayah Kota Lhokseumawe,” ujar mantan Kepala Dinas Syariat Islam itu.

Salah satu staf IOM, Bambang, dalam paparannya menjelaskan kepada pengungsi Rohingya tentang bagaimana refugee bisa menjadi korban dari perdagangan manusia, dan bagaimana refugee itu sendiri bisa menjadi pelaku dari perdagangan manusia. Oleh karena itu, mereka diberikan edukasi agar terhindar dari kasus tersebut.

“Kita tahu bahwa mereka perlu kita berikan banyak sekali edukasi atau pendidikan yang nantinya akan menambah pengetahuan mereka. IOM tentunya akan selalu hadir untuk memberikan penguatan dan pengetahuan kepada mereka,” ujar Bambang.

Humanitarian Coordinator Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, menyampaikan bahwa selama pengungsi tersebut ditampung di BLK, Gampong Meunasah Mee, Kandang, warga setempat sangat baik dalam penerimaannya. “Kami atas nama lembaga-lembaga kemanusiaan yang bekerja di kamp BLK Kandang mengapresiasi warga Meunasah Mee dan semua warga Kota Lhokseumawe maupun seluruh warga Aceh, yang telah membuktikan bahwa Aceh adalah satu bangsa yang sangat humanis dan toleran terhadap siapa saja”.

“Dalam hal kemanusiaan, kita tidak pernah memandang ras, suku, agama, dan bangsa, karena Aceh adalah satu bangsa yang sangat kosmopolit,” ujar Nasruddin.[](ril)

Baca juga: