Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaYeni Cami Direhab,...

Yeni Cami Direhab, Masjid Raya ‘Dirusak’

TERLALU berjarak jika ingin membandingkan cara orang Turki dengan Aceh dalam merawat situs budaya.

Di seluruh negeri Turki masih bisa ditemukan semua bangunan yang tersebut di dalam buku sejarah. Di sana semua dicatat dan dirawat. Semua bangunan yang didirikan oleh para sultan, gubernur atau pasha-pasha masih ada dan difungsikan sebagai situs budaya.

Pada 26 Oktober 2016, saya dan puluhan peserta konferensi dibawa ke villa puncak gunung, Hidiv Kasri, milik Pasha Mesir di bawah kesultanan Ottoman, abad 19. Ada sekitar 4 bangunan serupa di rentang Kadikoy, Uskudar, dan Beykoz. Itu hanya beberapa kota kecil dalam wilayah Kota Istanbul. Di sepanjang itu banyak juga masjid bersejarah yang dibangun para baginda sultan.

Di Galata, Eminonu, Istanbul bagian Eropa, ada satu masjid bernama Yeni Cami (New Mosque) yang tengah direhab dinding, menara, dan lainnya untuk melestarikan. Masjid itu dibangun sultan Ottoman tahun 1597 Masehi dan selesai pada 1665. Tahun ini bertepatan dengan masa datangnya utusan Sultan Al Kahar ke Istanbul, kafilah Lada Sicupak.

Begitu melihat itu, saya teringat Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, yang tengah dibuat payung di halamannya.

Yeni Cami direhab setelah para ahli arkeologi merekomendasikan cara kerja dan bahan khusus menyerupai bahan asli. Sementara Masjid Raya Banda Aceh bukan direhab, tapi ditambah. Dengan kata lain, Aceh tengah “merusak” situs budaya Masjid Raya Baiturrahman.

Apa yang salah dengan “isi kepala” gubernur dan DPRA saat itu yang setuju “merusak” situs masjid raya.[]

Thayeb Loh Angen, menghadiri Konferensi Internasional “Failed Coup and the Future of Civil Society in Turkey” di Faculty of Theology, Marmara University, Uskudar, Istanbul, 27-28 Oktober 2016, bersama penggiat dari 64 Non-governmental organization (NGO) Internasional dan 10 NGO Turki.

Baca juga: