BIREUEN – Tim Education dan Tim Mental Health and PsychoSocial Support (MHPSS) dari Yayasan Geutanyoe (YG) mengadakan kegiatan bersama pengungsi Rohingya di Desa Alue Buya Pasie, Kecamatan Pesangan, Kabupaten Bireuen, Sabtu, 19 Maret 2022.

Kegiatan tersebut berupa mewarnai bersama, bermain lego, hulahoop, dan berbagai permainan lainnya. Kegiatan yang berlangsung dari siang hingga sore ini bukan hanya diikuti anak-anak dan remaja Rohingya, namun juga diikuti anak-anak dan remaja masyarakat sekitar.

“Saat para relawan Yayasan Geutanyoe membagikan peralatan mewarnai dan permainan, para anak-anak beserta orang tuanya yang merupakan warga sekitar antusias ingin ikut bergabung dan berbaur dengan para pengungsi. Terlihat adanya interaksi dan keakraban antara para pengungsi dan anak-anak sekitar, mereka pun sangat bahagia dan meminta agar kegiatan ini sering dilakukan,” kata Koordinator Kemanusian Yayasan Geutanyoe, Teuku Nasruddin, dalam keterangannya, Ahad (20/3).

Nasruddin menjelaskan kegiatan ini sebagai bentuk play therapy untuk dapat mengurangi stres dan trauma para pengungsi yang sudah terdampar sejak 5 Maret lalu. Apalagi kondisi mereka kini sangat memprihatinkan karena harus tinggal di tempat tidak layak huni, dan ketidakjelasan keputusan soal pemindahan sehingga nasib pengungsi menjadi tidak menentu.

Para relawan Yayasan Geutanyoe juga melakukan aktivitas edukasi kapada para pengungsi dewasa. Mereka diajari Bahasa Indonesia dasar seperti huruf dan abjad Indonesia dan berbagai kosakata lainnya yang dianggap akan sangat dibutuhkan dalam komunikasi sehari-hari.

Para pengungsi dewasa, terutama laki-laki, terlihat belajar dengan antusias menuliskan dan menghapal yang disampaikan Tim Education menggunakan peralatan menulis yang dibagikan relawan Yayasan Geutanyoe. Masyarakat sekitar juga ikut bergabung mengajarkan bersama dengan para relawan.

“Kegiatan ini akan terus dilakukan mengingat kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan emergency yang sangat dibutuhkan oleh pengungsi dan sangat bermanfaat untuk mempererat hubungan antara pengungsi dan masyarakat sekitar,” ujar Nasruddin.[]