LHOKSEUMAWE – Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi, mengukuhkan Yukon Afrinaldo sebagai Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe menggantikan Yufrizal. Pengukuhan itu dilakukan di Ruang Serbaguna KPw BI Lhokseumawe, Jumat, 7 Februari 2020.
KPw BI Lhokseumawe sebelumnya, Yufrizal, kini menjadi KPw BI Provinsi Kalimantan Utara. Sedangkan Yukon Afrinaldo sebelumnya menjabat KPw BI Cirebon.
Pengukuhan itu turut hadir Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, Sekda Lhokseumawe, T. Adnan, Dandim 0103 Aceh Utara, Letkol Inf Agung Sukoco, Wakapolres Lhokseumawe, Kompol Ahzan, dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Rosmaya Hadi menjelaskan, peran Bank Indonesia dalam memajukan perekonomian pastinya dipengaruhi oleh kondisi global. “Tentunya semua sama-sama tahu bahwa perang dagang antara Amerika Sekirat dengan China, Eropa, Korea Selatan, Jepang, dan ini sesuatu harus diwaspadai. Selain itu, juga tensi geopolitik di beberapa negara, termasuk adanya virus corona, maka itu harus dilihat secara global”.
“Kondisi perekonomian dunia hingga akhir tahun 2019 diperkirakan tumbuh lebih lambat dibanding tahun 2018. Perlambatan itu terutama dipicu oleh melambatnya pertumbuhan tiga ekonomi terbesar yakni Amerika Serikat, China dan Uni Eropa. Kita sama-sama tahu pada tahun 2018 pertumbuhan ekonomi 3,16 persen, tetapi tahun 2019 tumbuh hanya sekitar 2,9 persen,” kata Rosmaya Hadi dalam sambutannya.
Menurut Rosmaya, hal itu akibat kondisi dan situasi global. Apabila terjadi sesuatu dari negera-negara luar, maka biasanya di masing-masing negara melakukan semacam penguatan untuk negaranya. “Mengapa kita sangat concern kepada perekonomian dunia itu, karena yang dampaknya sehingga harus kuat di negara kita (Indonesia) sendiri”.
“Akan tetapi pada tahun 2019, Alhamdulillah perekonomian kita cukup baik. Kita mencatatnya adalah pada triwulan IV tahun 2019 bahwa pertumbuhan ekonomi itu sekitar 4,97 persen, sehingga bisa dikatakan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) kita tumbuh 5,02 persen,” ujar Rosmaya.
Selain itu, kata Rosmaya, angka ekspor mengalami kontraksi 0,87 persen, karena lemahnya permintaan global dan negara-negara lain mulai mengurangi impornya. “Sehingga ekspor kita menjadi agak mengalami kontraksi seperti itu,” katanya.
Terkait investasi bangunan atau fisik, kata Rosmaya, lumayan berkembang ditunjang dengan adanya pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan. Sehingga investasi pada tahun 2019 masih mencatat sebesar 4,45 persen. “Namun demikian, itu mengalami agak lebih rendah dibandingkan investasi tahun 2018 mencapai sebesar 6,64 persen, berarti agak sedikit menurun pada tahun 2019 dari sisi investasi tersebut”.[]



