BANDA ACEH – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Aceh, Prof. Yusni Sabi, menyebutkan adanya oknum kampus yang terpengaruh paham radikal. Hal ini menurutnya karena tumbuh pemahaman seolah-olah ketika ada ketidakberesan, agama dipakai menjadi alat.
“Agama pada masanya pernah kita pakai untuk melawan penjajah, dan ini klop dan pas porsinya,” kata Yusni Sabi saat menyampaikan pidato “Fenomenologi: Deradikalisasi di Dunia Kampus” yang diselenggarakan Lingkar Publik Institut (LPI) di caffe 3 in 1 coffe, Banda Aceh, seperti rilis yang dikirim kepada portalsatu.com, Selasa, 20 Juni 2017.
Dia menyebutkan, penggunaan agama untuk mengganyang republik sudah tidak sesuai dengan kondisi negara yang sudah merdeka saat ini. Dia juga mempertanyakan dasar penggunaan agama sebagai alat untuk hal itu. “Apa dasarnya,” kata mantan Rektor UIN Ar Raniry ini.
Dia menjelaskan ada enam tujuan bersyariah, yaitu menjaga akal, diri, harta, keturunan, lingkungan, dan menjaga agama. “Saya ingin tekankan apa makna menjaga ad-din,” ujarnya.
Dia juga mempertanyakan reaksi penggunaan agama oleh sebagian ulama untuk menjaga agama. “Agama yang mana? Di sinilah terjadi perbedaan pandangan. Ada yang berpandangan ad-din itu agama (Islam) dan dalam kajian mikro, dan secara mikro ada yang memaknai ad-din sebagai kepemimpinan atau sistem,” katanya.
Masing-masing negara Islam yang tergabung dalam OKI, disebutnya, memiliki sistem yang berbeda-beda. Sementara Indonesia, diakui Yusni, menganut Pancasila sebagai dasar negara.
“Ini ad-din kita, hasil kesepakatan yang harus kita jaga,” katanya.
Yusni Sabi mencontohkan Konstitusi Madinah sebagai “ad-din” yang diikuti oleh semua kelompok, yang bersepakat untuk mengikutinya.
Dalam kesempatan tersebut, Yusni mengajak semua pihak untuk menjaga konsep negara Republik Indonesia agar tidak lemah. Jika lemah, negara tidak dapat menjalankan tugasnya seperti memberantas korupsi dan melindungi lingkungan.
Yusni Sabi juga mengajak mahasiswa untuk menghimpun energi kebaikan agar Aceh menjadi kuat. “Jangan mudah diseret oleh politisi untuk kepentingan sesaat,” katanya lagi.
“Jika Aceh kuat maka Aceh akan berwibawa. Jika tidak berwibawa untuk apa, jadi permainan orang saja. Jika Aceh kuat, maka Republik Indonesia juga kuat sehingga punya bargaining di dunia internasional,” kata Yusni. [] (*sar)




