BANDA ACEH – Buku Erdogan: Muazzin Istanbul Penakluk Sekulerisme Turki dijadwalkan dibedah di Banda Aceh pada Sabtu 13 Februari 2016. Wali Kota Illiza Saaduddin Djamal, diundang sebagai pembicara.
Demikian kata Ketua panitia, Teuku Farhan, Jumat, 5 Februari 2016, di Banda Aceh. Acara tersebut, kata Farhan, dilaksanakan untuk mengenalkan kepada orang-orang tentang proses perubahan total aturan negara di Turki, dari undang-undang sekuler beralih kepada undang-undang yang mendukung Islam.
Mengundang Illiza sebagai pemateri penting, disebabkan wali kota ini berserta DPRK baru pulang dari kunjungan ke Istanbul, Turki. Selain Iliza, kita juga mengundang pembicara lain, di antaranya Thayeb loh Angen dari PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), kata Farhan, peserta Konferensi Editor Jurnal Internasional di Istanbul 2015 ini.
Sementara Teuku Zulkhairi, yang dijadwalkan menjadi pemandu acara (moderator), mengatakan, pada tahun 1998, Erdogan membaca puisi legendaris karya Ziya Gokalp di sela-sela konferensi umum Partai Refah di Tenggara Anotalia. Sebuah puisi yang mengantarkannya ke dalam penjara.
Bunyi puisi ini berbunyi: Masjid adalah barak kami, kubah adalah penutup kepala kami, menara adalah bayonet kami, orang-orang beriman adalah tentara kami, tentara ini yang menjaga agama kami! kata Zulkhairi, yang juga peserta Konferensi Editor Jurnal Internasional di Istanbul 2015 ini.
Zulkhairi mengatakan, alasan militer Turki memenjarakan Erdogan adalah karena dengan membaca puisi ini Erdogan dianggap telah memprovokasi rakyat untuk membangkitkan semangat beragama, sesuatu yang terlarang dalam sistem sekulerisme di era Turki lama.
Hal paling mendebarkan saat membaca buku hasil penelitian Syarif Tagihan, seorang jurnalis Libanon, ini adalah ketika Erdogan menghadapi militer Turki pada tahun 2002. Para Jenderal yang tadinya melawan akhirnya menjadi kawan, sesuatu yang membuktikan pentingnya kemampuan berdiplomasi dalam berpolitik. Erdogan sukses melakukan revolusi sunyi dan menumbangkan sekulerisme Turki sebagai penyakit kronis yang merusak Turki, kata Zulkhairi.
.jpg)
Zulkhairi menyebutkan, hal yang paling mengharukan di buku tersebut ternyata, jauh sebelum lebih dari 50 persen rakyat Turki menjatuhkan pilihannya kepada partai yang dibentuk Erdogan, AKParti, dan juga sebelum Erdogan meraup lebih dari 50 persen suara rakyat Turki dalam Pilpres, Ternyata Erdogan telah dikenal sejak lama sebagai figur yang jujur dan sederhana.
Erdogan terbiasa membuka puasa bersama fakir miskin, sering menghadiri ta'ziyah warga yang meninggal, mampu membangun silaturrahim dengan siapa saja, mencintai ulama dan mencium tangan mereka. Juga terbiasa mengikuti permainan dan pertandingan bola kaki, kata Zulkhairi.
Satu lagi, katanya, Erdogan menyadari kemampuan dirinya yang terbatas, termasuk tidak bisa berbahasa Inggris. Ia lalu mendirikan forum yang terkumpul dari para intellektual di sana. Erdogan menjadikan gagasan-gagasan para intelektual di forum ini sebagai narasi dalam pembangunan. Itu sebab, ia dikenal suskes “menyulap” Istanbul yang tadinya kotor dengan sampah menjadi kota yang hijau dan rapi.
“Dan kini, di bawah sentuhan tangan dingin Erdogan, Turki telah sembuh dari sakitnya dan menjadi diperhitungkan oleh kekuatan lain di kawasan, kata Zulkhairi, yang nama dua anak laki-lakinya.[]




