Petugas keamanan Masjidil Haram sedang gencar mencari joki untuk mencium Hajar Aswad. Mereka yang mencurigakan ditangkap. Tak terkecuali, jemaah yang sedang berusaha membantu keluarga. Berhati-hatilah.
Peristiwa ini terjadi pada 19 September pukul 22.00 Waktu Arab Saudi. Dua jemaah Indonesia bernama Muhammad Rasul Deng Naba (41) dan Abdul Rauf Nuraling Pattola (41) bersama rombongan jemaah wanita hendak mencium hajar aswad secara bergantian. Rasul membantu para jemaah yang berusia renta dan merupakan keluarganya tersebut.
Di putaran pertama, sebagian jemaah berhasil mencium Hajar Aswad dibantu Rasul. Namun saat hendak membantu jemaah lain, aksi mereka langsung dicegah petugas keamanan Saudi. Bahkan saat itu, Rasul baru saja melaksanakan salat sunah.
“Saat akan bangkit habis salat sunah, mereka ditangkap oleh ashkar, dibawa ke markas untuk dimintai keterangan,” kata Kasie Perlindungan Jemaah Wagirun di Daker Makkah, Sabtu (24/9/2019).
Rasul dituding oleh para petugas keamanan sebagai joki hajar aswad. Praktik yang sering dilakukan oleh para mukimin atau orang Indonesia yang bermukim di Saudi, untuk membantu jemaah yang hendak mencium hajar aswad dengan bayaran tertentu. Sementara Rauf saat itu kebetulan mendapat giliran yang dibantu oleh Rasul.
“Padahal mereka melakukan itu tanpa fulus atau uang,” kata Wagirun.
Keluarga dan istri dua jemaah yang ditangkap lalu kembali ke hotel. Mereka lalu melaporkan kejadian ini keesokan harinya sekitar pukul 08.45 Waktu Saudi ke bagian Perlindungan Jemaah (linjam sektor). Setelah itu, pihak linjam langsung berkoordinasi dengan petugas Daker Makkah.
Upaya pembebasan pun dilakukan. Awalnya, tim linjam Daker Makkah berusaha mendatangi markas keamanan Masjidil Haram. Namun setelah diperiksa, dua jemaah Indonesia ternyata sudah dibawa ke penjara Shumaisy. Proses pembebasan pun jadi semakin berat.
Akhirnya, lewat koordinasi antara pihak Daker Makkah, PPIH Arab Saudi, sampai pihak Muassasah dan maktab, para jemaah bisa dibebaskan sekitar pukul 02.00 dinihari tadi. Upaya pembebasan ini terjadi setelah ada surat dari Daker Makkah ke PPIH Arab Saudi untuk permohonan penyelesaian kasus, lalu meminta bantuan tim KJRI Jeddah, lalu ada surat dari PPIH Arab Saudi ke Kementerian Haji dan Muasssah Asia Tenggara, ditambah komunikasi intens ketua PPIH kepada dua lembaga tadi, serta komunikasi Kadaker Makkah bersama tim kepolisian Masjidil Haram untuk membebaskan dua jemaah tadi.
Saat ini, dua jemaah tersebut berada di Daker Makkah untuk menunggu paspor mereka yang tertahan di kantor kepolisian. Setelah paspor kembali, para jemaah yang berasal dari Makassar kloter 11 tersebut, akan bergabung dengan keluarga dan rombongannya yang saat ini berada di Madinah.
Wagirun berpesan, agar kejadian ini tidak berulang, para jemaah sebaiknya tidak memaksakan diri untuk mencium hajar aswad. Selain sunah, mencium hajar aswad juga kadang berdesakan sehingga khawatir berbahaya. Tidak perlu juga sampai menggunakan jasa orang lain karena bisa berimbas pada urusan dengan petugas keamanan.
“Sewajarnya saja, sebab yang wajib itu ibadahnya. Kalau memungkinkan silakan, kalau tidak memungkinkan tidak usah dilaksanakan,” paparnya.
Rasul yang juga diwawancarai di lokasi mengatakan, sudah empat kali mengantar saudaranya mencium hajar aswad. Fisiknya yang kuat membuat banyak yang meminta bantuannya. Namun dengan adanya kasus ini, dia pun mendapat pelajaran berharga.
“Kalau memang tidak bisa, tidak perlu mencium Hajar Aswad, kalau memang ada kesempatan silakan. Jangan dipaksakan,” ucap Rasul.[]Sumber:Detik





