Beranda22 Alat Pendeteksi Tsunami Rusak

22 Alat Pendeteksi Tsunami Rusak

Populer

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan terjadinya tsunami berbarengan gempa besar berkekuatan 7,8 SR yang terasa di sebagian Pulau Sumatera. Peringatan tersebut dikeluarkan pada Rabu, 2 Maret 2016 pukul 19.42 WIB dan dicabut pada pukul 22.34 WIB.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan peringatan ini dikeluarkan karena aplikasi pemodelan milik BMKG merekam potensi tsunami.

Mendengar informasi tersebut, BNPB langsung bergerak cepat menjalin koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk secepat mungkin mengevakuasi warga.

“Biasanya dalam waktu potensi tsunami, kita memiliki waktu yang terbatas. Sering komunikasi dengan daerah kadang terputus. Padahal, waktu evakuasi biasanya hanya 30-45 menit saja,” kata Sutopo di kantornya, Jakarta, Kamis, 3 Maret 2016.

Seperti diketahui, analisis data seismik dan lokasi, gempa semalam justru menunjukan potensi kecil munculnya tsunami.

Menanggapi hal itu, Sutopo mengatakan, BMKG mengeluarkan peringatan dini lantaran alat pendeteksi tsunami atau bouy buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang tersebar di 22 titik tidak bekerja secara maksimal.

“Indonesia punya 22 bouy. Tapi rusak semua. Tidak ada anggaran untuk melakukan perawatan,” ucap Sutopo.

Sutopo menjelaskan, BMKG baru mencabut peringatan tersebut setelah mendapat data dari bouy milik Australia. Negeri Kanguru tersebut memang memiliki bouy di selatan Kepulauan Mentawai.

“Di sisi selatan Mentawai ada Pulau Kokos, Australia. Di situ ada satu bouy milik Australia,” kata dia.

?Selanjutnya, Sutopo mengatakan tidak pernah ada dana perawatan yang berasal dari bouy. Ditambah perilaku masyarakat yang banyak merusak alat senilai Rp4-8 miliar itu semakin memperparah situasi.

“Banyak tangan-tangan vandalisme yang merusak bouy di lautan.? Contohnya yang di Laut Banda. Warga banyak mengambil sensor, lampu, dan komponen pada bouy,” ujar Sutopo.

Ke depan, dia mendesak pemerintah lebih serius memerhatikan masalah alat pendeteksi tsunami itu. Ini mengingat bouy memegang peranan sangat penting yang bekerja komprehensif dalam mendeteksi bahaya tsunami.

Hingga saat ini, kata Sutopo, Indonesia terpaksa bergantung pada lima bouy milik negara tetangga. Alat-alat tersebut sedikit membantu Indonesia dalam pendeteksian dini tsunami.

“1 unit di barat Aceh milik India, 1 unit di Laut Andaman milik Thailand, 2 unit di selatan Sumba dekat Australia, dan 1 unit di utara Papua milik Amerika,” kata dia.[] Sumber: dream.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya