BLANGKEJEREN — Sebanyak 25 perempuan yang berasal dari Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Kota Banda Aceh mengikuti pelatihan pertama dari Serial Pelatihan Perempuan Peduli Leuser yang diselenggarakan USAID Lestari di Blangkejeren, Gayo Lues, 17-20 Oktober 2017.
Gender Spesialis USAID Lestari Triningtyas Asih mengatakan, pelatihan ini dibuat secara berkelanjutan dan berakhir pada Maret 2018. Selama empat hari peserta akan diberikan pemahaman dan pengenalan mengenai Kawasan Ekosistem Leuser, Analisis Gender, dan Media Advokasi.
Melalui pelatihan berkelanjutan ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas perempuan sebagai komunikator lingkungan hidup.
“Kita harapkan juga ada penguatan jaringan antarpeserta yang berasal dari empat kabupaten dan satu kota ini,” kata Tyas di hadapan peserta pada hari pertama.
Lanskap Leuser merupakan salah satu dari enam lanskap yang menjadi cakupan wilayah kerja USAID Lestari, termasuk di antaranya yang ada di Papua dan Kalimantan. Dengan tujuan untuk pengelolaan hutan, menurunkan emisi gas rumah kaca, dan melestarikan keanekaragaman hayati.
Mengenai Lanskap Leuser lebih banyak dijelaskan oleh Koordinator USAID Lestari Wilayah Aceh Ivan Krisna, yang menjadi fasilitator di hari pertama. Ivan menjelaskan, Lanskap Leuser yang lebih dikenal dengan Kawasan Ekosistem Leuser merupakan kawasan seluas 1,6 juta hektare mencakup empat wilayah di Aceh yaitu Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues, serta meliputi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Dalam melakukan misi konservasi ini, Lestari melakukan pendekatan melalui kebutuhan utama manusia akan air. “Air adalah strategi USAID Lestari untuk melakukan konservasi lingkungan, agar mudah masuk ke masyarakat,” ujarnya.
Khusus di Aceh kata Ivan, fokus kerja Lestari adalah meningkatkan pengelolaan hutan di Lanskap Leuser untuk perlindungan sumber air. Ia menyontohkan Kabupaten Gayo Lues yang memiliki lima Daerah Aliran Sungai yang menyuplai air ke-13 kabupaten di Aceh, sangat bergantung pada kawasan Leuser.
Karena itu mempertahankan dan menjaga kelestarian Lanskap Leuser menjadi tanggung jawab semua pihak. Termasuk peran dari kaum perempuan yang dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak bersentuhan dengan air dalam melakukan aktivitasnya. Selain itu, kerusakan KEL juga berdampak pada luar kawasan yang menjadi wilayah penerima manfaat jasa hutan.
Salah satu peserta, Rachmi, yang berasal dari Aceh Selatan mengatakan, dirinya sangat bersyukur bisa lolos dalam program ini.
“Ini merupakan peluang secara langsung untuk bisa berjejaring dengan perwakilan perempuan-perempuan dari beberapa wilayah di Aceh dari latar belakang yang beragam. Ke depannya berpotensi untuk berkolaborasi menciptakan kekuatan yang lebih besar,” ujar Rachmi.
Melalui materi di hari pertama yang mengangkat topik khusus mengenai KEL misalnya, Rachmi mengaku memperoleh banyak informasi dari masing-masing daerah terkait permasalahan lingkungan yang terjadi di masyarakat.
“Kami juga diajak merumuskan solusi yang akan kita tawarkan serta kita ambil bagian untuk berperan langsung dalam menyosialisasikan ke masyarakat mengenai pentingnya pelestarian KEL secara berkelanjutan,” ujarnya.[]




