25 SEPTEMBER 1810, pemerintah kolonial Belanda yang telah menancapkan “kukunya” di Pulau Jawa memerintahkan pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan Bandung. Perintah itu dituangkan dalam surat keputusan yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman William Daendels. Sejak itu, peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi Kota Bandung.
Dilansir dari situs wikipedia.org, Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan. Penamaan daerah ini dilatarbelakangi oleh kondisi geografis bendungan alami sungai Citarum yang terbentuk karena lava Gunung Tangkuban Perahu berbentuk telaga. Selain itu, ada pula legenda yang menyebutkan nama Bandung diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu, yang diikat berdampingan. Kedua perahu ini kemudian disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, RA Wiranatakusumah II untuk melayani Ci Tarum dalam mencari kabupaten baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.
Berdasarkan filosofi Sunda, kata Bandung juga berasal dari kalimat Nga-Bandung-an Banda Indung, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-Bandung-an artinya menyaksikan atau bersaksi. Banda adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. Sinonim dari banda adalah harta. Indung berarti Ibu atau Bumi, disebut juga sebagai Ibu Pertiwi tempat Banda berada.
Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai Banda. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah Banda Indung, yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfir adalah tempat yang menyaksikan, Nu Nga-Bandung-an. Yang disebut sebagai Wasa atau SangHyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.
Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sangkyang Tikoro.
Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman.
+++
SELAIN menjadi hari lahirnya Kota Bandung, 25 September juga menjadi momen lahirnya tokoh-tokoh dunia. Pada tanggal tersebut tepatnya tahun 1644, ahli astronomi dari Denmark Ole Chrisntensen Roemer menghirup udara pertamanya di Bumi. Ole lahir di Aarhus yang di kemudian hari melakukan pengukuran kuantitatif pertama terhadap kecepatan cahaya (1676).
Selanjutnya, 25 September 1694. Salah satu tokoh Britania Raya yang kelak menjadi Perdana Menteri, Henry Pelham juga memekikkan suaranya pertama kali pada tanggal tersebut. Kemudian, Kaisar Qianlong dari Tiongkok juga disebut-sebut lahir pada 25 September 1711.
Tokoh lainnya yang lahir pada hari ini adalah Nicolas Joseph Cugnot. Dia lahir pada 25 September 1725 dan kemudian menjadi pionir mobil di Perancis. Seterusnya Billy Hughes yang kemudian menjadi Perdana Menteri Selandia Baru juga lahir pada 25 September 1862.
Perdana Menteri Selandia Baru, Sir Robert Muldoon juga dikabarkan lahir pada 25 September 1921, kemudian presiden pertama Nauru, Hammer DeRoburt juga lahir pada tanggal yang sama tahun 1922. Tokoh selanjutnya adalah aktor Amerika Serikat Michael Douglas yang lahir pada 1944, kemudian Christopher Reeve–yang juga aktor dari negeri Paman Sam–lahir pada 25 September 1952, dan banyak tokoh lainnya yang lahir pada hari ini.
+++
DI Aceh, ada salah satu tokoh yang disebutkan lahir pada 25 September 1925. Bertempat di Tiro, tangisan Hasan kecil melengkapi kebahagiaan pasangan Tengku Muhammad Hasan dan Pocut Fatimah. Tak disangka, Hasan yang lahir dari keturunan pejuang Aceh ini di kemudian hari menjadi pelopor perlawanan Aceh melawan Jakarta melalui Gerakan Aceh Merdeka atau Acheh Sumatera National Liberation Front (ASNLF).
Hasan di Tiro bin Muhammad Hasan merupakan seorang yang jenius. Dia juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan selama duduk di bangku kuliah. Sebagai seorang yang pintar, Hasan kemudian mendapat rekomendasi dari Teungku Daud Beureueh untuk belajar di Universitas Islam Indonesia (UII). Dia diterima di Fakultas Hukum dan tamat pada 1949.
Selama mengenyam pendidikan di UII, Hasan di Tiro juga tercatat sebagai pendiri Pustaka UII bersama Kahar Muzakkar. Setamat dari universitas tersebut, Hasan kemudian mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam ini, Hasan Tiro kemudian mengambil jurusan Ilmu Hukum International di Universitas Columbia. Dia juga disebutkan pernah bekerja di KBRI di Amerika setelah menyelesaikan program doktor.
Sikap nasionalis Hasan Tiro berubah 180 derajat setelah peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan SM Kartosuwiryo. Saat itu, Teungku Daud Beureueh turut ikut serta mengangkat senjata dan menyatakan takzim kepada Imam Kartosuwiryo. Akibatnya pemerintah Indonesia menginstruksikan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Islam di Aceh termasuk memburu Daud Beureueh.
Dalam pengejaran tersebut, sebuah insiden pembantaian terhadap 92 warga Aceh di Pulot, Cot Jeumpa, Leupung, Aceh Besar menyeruak ke permukaan. Kabar ini turut disiarkan media asing seperti Asahi Simbun, Washington Post, dan New York Times. Hal inilah yang membuat darah Hasan Tiro berdesir. Dari kota “melting pot”, Hasan melayangkan surat kepada PM Ali Sastroamidjojo agar pemerintah Indonesia meminta maaf atas pembantaian yang dilakukan terhadap puluhan warga sipil di Aceh. Dia juga turut mengultimatum pemerintah Indonesia dan mengancam untuk mendirikan kantor perwakilan diplomatik bagi Republik Islam Indonesia di seluruh dunia. Sikap ini pula yang menyebabkan Hasan Tiro kemudian kehilangan status Warga Negara Indonesia dan dipenjara di Amerika Serikat.
Setelah fase tersebut, Hasan Tiro kemudian melompat ke ide yang lebih radikal: nasionalisme ke-Acehan. Dia menolak ide Republik Indonesia yang dinilai sebagai proyek “Kolonialisme Jawa” serta warisan tidak sah dari perang kolonial Belanda. Hasan Tiro juga kerap menuliskan buku-buku dengan latar belakang nasionalisme ke-Acehan sejak saat itu. Kisah Hasan Tiro kemudian berlanjut dengan pembentukan ASNLF dengan GAM sebagai sayap militernya.
Setelah puluhan tahun mengadakan perlawanan terhadap Republik Indonesia, GAM kemudian sepakat berdamai dengan Jakarta pada 15 Agustus 2005. Hal ini dilakukan setelah Aceh dilanda gempa dan tsunami yang membuat mata Internasional menyorot daerah tersebut.
Setelah sekian lama perdamaian antara RI-GAM berlangsung, Hasan Tiro kemudian pulang kampung. Dia kemudian dilaporkan menderita sakit jantung dan komplikasi organ dalam setelah mengantongi status WNI. Pada Kamis, 3 Juni 2010 sekitar pukul 12.12 WIB, deklarator GAM ini meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin. Jenazah “Sang Wali” kemudian dimakamkan di kompleks makam Teungku Chik di Tiro, di Meureu, Indrapuri Aceh Besar.[] dari berbagai sumber





