Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaHeadlineAceh Hari Ini:...

Aceh Hari Ini: Hasan Tiro Gelar Konferensi Pers di Malaysia

Pada 5 Oktober 2008, Wali Nanggroe Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro menggelar konferensi pers di Malaysia tentang rencana kepulangannya ke Aceh. Saat konferensi Hasan Tiro didampingi mantan Perdana Menteri GAM, Malik Mahmud dan Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Ibrahim Syamsudin alias KBS dan pendampingnya, Muzakkir Hamid.

Dalam konferensi pers tersebut Hasan Tiro hanya menyampaikan beberapa patah kata, ia berpesan agar perdamaian Aceh yang telah dicapai dengan susah payah tidak boleh gagal. Kepulangan Hasan Tiro waktu itu untuk melihat langsung hasil perdamaian di Aceh.

Kepulangannya ke Aceh seakan sebuah penegasan terhadap apa yang pernah dinyatakan Hasan Tiro dalam bukunya The Prince of Freedom: The Unfinished Diary. Buku setebal 266 halaman itu ditulis Hasan Tiro selama enam tahun bergerilya di rimba Aceh. Ia menegaskan dalam buku itu. “Hanya orang gila dan dungu yang percaya bahwa aku tak akan kembali lagi.”

Sehari setelah menukilkan kalimat itu, ia kembali meninggalkan Aceh dengan alasan keamanan. Pertama kali Hasan Tiro pulang ke Aceh pada Sabtu, 30 Oktober 1976. Hari itu ia tiba di Kuala Tari, Pasi Lhok, Kabupaten Pidie sekitar pukul 08.30 WIB, setelah 25 tahun menetap di Amerika Serikat.

Ia mendarat di desa pesisir itu dengan menggunakan sebuah perahu nelayan. Adalah Muhammad Daud Husin dan pasukannya yang menjemput Hasan Tiro pagi itu. Baru pada pukul enam sore, dia menuju ke gunung.

Baca Juga: Lahirnya Undang Undang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh

Satu bulan berada di hutan, Hasan Tiro mulai menyusun segala strategi gerilya. Puncaknya pada tanggal 4 Desember 1976, saat ia mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka di Gunung Halimon, Pidie.

Hasan Tiro punya alasan dalam memilih tanggal 4 Desember sebagai hari deklarasi. Menurutnya, tanggal tersebut punya landasan historis dan simbolis. Pada tanggal 3 Desember 1911 Tengku Chik Maat di Tiro sebagai pemimpin pejuang Aceh melawan Belanda syahid dalam peperangan dengan Belanda di Alue Bhot, Tangse, Pidie.

Dengan meninggalnya Maat di Tiro, Belanda mengklaim Aceh telah kalah dan menetapkan tanggal 4 Desember sebagai hari runtuhnya Aceh. Hasan Tiro membantah anggapan itu. Dia mengatakan, perjuangan Maat di Tiro diteruskan kembali oleh orang-orang yang selamat dalam pertempuran di Alue Bhot. Tengku Chik Maat di Tiro adalah paman Hasan Tiro.

Hasan Tiro pernah memberikan ceramah kepada pengikutnya pada tanggal 11 Februari 1977. Di hadapan pengikut GAM di sebuah bukit, Hasan Tiro membakar semangat para pejuang dengan ceramahnya tentang tanah Aceh. Ia menyebut Aceh sebagai warisan leluhur yang harus dipertahankan, tanpa mengakui nama lain.

Tahun pertama GAM, pengikut-pengikut Hasan Tiro kebanyakan dari keluarga Tiro sendiri dan beberapa mantan pengikut Teungku Daud Beureueh. Angkatan pertama seperti Teungku Muhammad Daud Husin (Daud Paneuk), Teungku Taleb, Usman Lampoh Awe, Zaini Abdullah dan Ilyas Abet.

Dari bekas pengikut Daud Beureueh, ada Malik Mahmud Al-Haytar, anak dari pengikut setia Abu Daud Bereueh, Mahmud Al-Haytar. Malik Mahmud mau bergabung dengan Aceh Merdeka karena punya ikatan sejarah dan emosional.

Sejak keberangkatan Hasan Tiro pada tahun 1979 ke luar negeri, ia pernah kembali beberapa kali ke Aceh, seperti pada Juni 1990. Setelah tahun itu, Hasan Tiro baru kembali lagi ke Aceh pada 11 Oktober 2008.[]

Baca juga: