Oleh: Thayeb Loh Angen
Budayawan, Organisator, Mantan Kombatan GAM
Begitu mendengar kabar bahwa Tgk. Yahya Muaz meninggal, aku tertegun, terkesima, teringat peristiwa tahun 2000. Itu pertama kali aku dan kawan-kawan bertemu dengannya.
Dia terkenal di kalangan pejuang Aceh yang tergabung dalam organisasi bawah tanah, ASNLF (Aceh Sumatra National Liberation Front). ASNLF kemudian dikenal dengan sebutan GAM.
Saat itu, kami masih menyebut Gerakan tersebut sebagai ASNLF, baru tahun-tahun setelahnya media-media memasyhurkan sebutan GAM. Maka, dengan sendirinya sebutan ANLF berganti menjadi GAM di kalangan masyarakat dan pemerintah.
Walaupun pemerintah RI memiliki banyak sebutan untuk ASNLF sebelum itu, misalnya GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro), dan sebagainya. Saat itu juga dicoba masyhurkan sebutan TNA (Tentara Negara Aceh) dengan meniru TNI (Tentara Negara Indonesia), tetapi tidak berhasil.
Setelahnya, sebutan Gerakan Separatis Aceh juga dimunculkan, tetapi media lebih menyukai sebutan GAM, maka GAM menjadi sebutan de fato dengan ASNLF.
Pada masa itu, jabatan juru penerangan adalah jabatan penting dalam ASNLF yang tengah merangkul rakyat untuk dukungan politik dan anggota untuk pasukan militer dan sipil. Apalagi, juru penerangan tingkat Komando Pusat Tiro (komando pusat ASNLF), yang ditanggung oleh Tgk. Yahya Muaz.
Namun, kami tidak sempat memikirkan hal tersebut. Lagi pula ada candaan, ‘tentara dilarang berpolitik’. Memang, itu candaan bodoh. Saat itu kami, sekira 12 orang pemuda tengah mengikuti pelatihan polisi militer GAM, Daerah 1 (saat itu masih disebut Daerah IV) Wilayah Samudra Pase.
Dalam tahun-tahun itu, kami, para pejuang Aceh dari semua battalion, divisi, dan koorp, memiliki semangat yang lebih besar daripada tubuh kami yang masih muda. Seakan-akan, kami adalah pasukan dari sebuah negara yang berdaulat dan adidaya. Nyan perasaan droeneuh mantong (Itu hanya perasaanmu saja)
Namun, semangat itu pula diselingi kenyataan bahwa kami merasa ketakutan sepanjang waktu. Harapan, ketakutan, dan pengabdian pada perjuangan, silih berganti berkecamuk dalam diri. Tidak ada yang tahu, perasaan apa yang kemudian menang di dalam diri kami.
Polisi Militer ASNLF
Kelompok kami adalah adalah regu polisi militer GAM pertama di ASNLF yang dibentuk dan berhasil menjadi tim. Regu sebelumnya hilang tidak berbekas. Regu kami kemudian menjadi rujukan untuk regu lain yang dibentuk seluruh Aceh.
Regu kami terus ada, walaupun setelahnya beberapa kali berganti personil sampai GAM-RI menandatangani MoU pada 15 Agustus 2005 di Helsinki. Beberapa orang dari regu itu telah meninggal dunia, juga personil terakhir yang penggantinya, beberapa orang juga meninggal dunia.
Malam itu, ada pendidikan ideologi “Acehnesse Education”, dipandu oleh Tgk. Yahya Muaz. Aku tidak ingat lagi, berapa malam Tgk. Yahya Muaz mengisi pelajaran tersebut kepada kami.
Aku tidak yakin pula, apakah Tgk. Yahya Muaz hadir ke sana hanya untuk mengisi pelajaran untuk kami, atau sambilan keliling untuk memberikan pendidikan idiologi kepada pasukan di seluruh Aceh. Peristiwa dua puluh tahun lalu tersebut telah terlupakan, lagi pula saat itu, kami latihan fisik sepanjang hari dan pada waktu malam mendengarkan ceramah.
Parahnya lagi, aku tidak ingat lagi berapa lama kami latihan seperti itu, apakah sebulan atau tiga bulan. Namun, sepertinya Tgk. Yahya Muaz datang khusus untuk mengajarkan kami, karena kami adalah kamp yang disiapkan untuk pendidik, bukan untuk petempur, dan regu pertama di Aceh dari koorp kecil itu.

Oleh karenanya, kami butuh pengetahuan sejarah, sosiologi, dan politik yang lebih baik daripada anggota ASNLF lainnya yang seangkatan.
Tahun-tahun itu, pikiranku tengah ‘diinstal’ dengan iodeologi baru. Kami bahkan tidak tahu lagi penanggalan Masehi, semuanya dihitung dengan tahun Hijriyah dan ditulis dalam Bahasa Aceh berdiakritik.
Secara tertutup, dalam beberapa tahun itu, kami memiliki ‘negara sendiri’ dengan sistem yang independen. Kami menyebutnya, ‘wilayah meudeelat’ (wilayah berdaulat).
Struktur
Struktur Pemerintahan Aceh versi ASNLF (GAM)
Tingkat Negara
Kepala Negara: Wali Neugara, saat itu Hasan Tiro
Kepala Pemerintahan: Perdana Mentri, saat itu Malik Mahmud
Pemimpin Militer: Panglima Komando Pusat
Tingkat Propinsi (Wilayah)
Kepala Wilayah-Pemerintahan Sipil: Gubernur
Pemimpin militer: Panglima Wilayah
Tingkat Daerah (Kabupaten/Kota)
Kepala Daerah-Pemerintahan Sipil: Tidak ada, karena tingkatan ini tidak ada dalam struktur Negara Aceh Darussalam, Cuma dibuat saja untuk mudah dibagi wilayah administrasi militer
Pemimpin militer: Panglima Muda
Tingkat Sagoe (Kecamatan)
Pemerintahan Sipil: Ulee Sagoe (Kepala Sagi)
Pemimpin militer: Panglima Sagoe
Tingkat Mukim (Mukim)
Pemerintahan Sipil: Imum Mukim
Pemimpin militer: Ulee Teuntra Mukim
Tingkat Gampong (Gampong/Desa)
Pemerintahan Sipil: Geuchik
Pemimpin militer: Ulee Teuntra Gampong
Struktur pemerintahan tersebut diadopsi dari Kesultanan Aceh Darussalam, setelah disesuaikan ulang, yaitu: di tingkat Negara, Kepala Negara dari Sultan menjadi Wali Neugara. Di tingkat wilayah dari seharusnya dipimpin oleh Raja (bukan sultan, karena sultan tingkat negara) menjadi dipimpin oleh gubernur. Ditambah di tingkat Daerah, wilayah administratif untuk militer di bawah Wilayah.
Karena itulah, menurut rumor yang berkembang saat itu, ketika orang daerah Nisam menuju kota, mereka dimintai ‘paspor’ oleh beberapa pihak. Tentu saja itu candaan.
Tempat latihan kami saat itu berada di Gampong Darussalam, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, disebut dengan nama Urong. Di seputaran itu ada pos (kamp) Amad Blang, Syaridin, dan Pom (Polisi Militer GAM).
Yang menarik dari Tgk. Yahya Muaz, dia mampu menjelaskan ideologi ASNLF dengan lebih baik. Dia memahami sesuatu hal dengan teori, logika, dan contoh-contoh aktual, bukan dengan hinaan atau pembenaran. Hal itu jarang dimiliki juru penerangan GAM lainnya.
Apabila melihat dari garis turunannya, itu memang wajar. dia merupakan tokoh terpandang di dalam kalangan GAM. Almarhum merupakan kemenakan Wali Nanggroe, Tgk Hasan Muhammad di Tiro atau sering disebut Tgk Hasan Tiro (kami menyebutnya Wali Neugara Aceh Sumatra).
Tgk Yahya Muaz
Semasa hidupnya, Tgk Yahya Muaz mendapat didikan langsung dari Hasan Tiro tentang idiologi Aceh Merdeka saat berada di dalam wilayah hukum Kerajaan Swedia, Skandinavia, Eropa Utara.
Dalam beberapa tahun terakhir, almarhum tidak aktif lagi dalam politik. Dia menekuni penelitian tentang lumpur vulkanik di Aceh. Lumpur tersebut diolah menjadi obat-obatan dan kosmetik.
Menurut kabar, program tersebut kemudian dikembangkan pula oleh Roni Ahmad alias Abusyik, Bupati Pidie. Tgk. Yahya Muaz juga memiliki program lain berbasis teknologi agrobisnis di Kawasan tersebut.
Namun, dalam setahun terakhir, kesehatan Tgk. Yahya Muaz menurun dan dia tidak mendapat kepulihan sehingga ajal menjemputnya.
Dia telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya pada Sabtu, 4 September 2021, pukul 20.00 WIB. Maestro itu telah pergi dia menutup usia pada 58 tahun, di Gampong Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.
Jenazahnya dibawa pulang ke Meunasah Jurong Kupula, Gampong Dayah Muara Garot, Mukim Garot/Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie. Setelah dishalatkan di Masjid At Taqwa Garot, dikebumikan di pekuburan keluarga di Meunasah Jurong Kupula, Gampong Dayah Muara Garot.
Selamat sang maestro, selamat jalan guru kami. Semoga Allah memberikanmu tempat terbaik.

Tentang ASNLF dan MoU Helsinki
Aku memperhatikan tulisan MoU Helsinki. Di dalam MoU Helsinki, tidak disebutkan ASNLF, organisasi yang dideklarasikan oleh Hasan Tiro. Yang disebutkan adalah GAM tanpa kepanjangannya (Gerakan Aceh Merdeka).
Mungkin, hal itulah yang memberikan ruang kecil alasan bagi sekelompok anggota periode kedua ASNLF di luar negeri. Mereka menyuarakan kembali gerakannya dan menolak MoU Helsinki. Tentang hal itu, sebenarnya, alasan rekan senior tersebut masuk akal, tetapi tidak dapat diterima secara hukum internasional.
Hal itu disebabkan, orang-orang yang menadatangani MoU Helsinki adalah tokoh penggerak ASNLF dan kemudian Hasan Tiro sebagai deklaratornya pun pulang ke Aceh. Dalam sebuah Gerakan, kietetapan pempimpinlah yang dinilai, bukan pernyataan pengikut.
ASNLF
Oleh karena itu, apabila rekan-rekan menolak MoU Helsinki dan ingin meneruskan perjuangan serupa ide dari Yang Mulia Hasan Tiro, maka kalian para handai taulan sebaiknya memberikan nama lain untuk Gerakan tersebut, dengan konsep baru yang dimodifikasi.
Bek neupeuasap le bu sijek, tetapi neu taguen bu laen ngat meuasap (jangan dipanaskan lagi nasi yang mendingin, tetapi masaklah nasi lain yang baru).
Apabila rekan-rekan ingin berjuang kembali, maka harus turun tangan sendiri. Hasan Tiro diikuti oleh rakyat karena Yang Mulia turun sendiri, mendeklarasikan ASNLF di Gunong Alimon, bukan di New York, London, Tripoli, atau Stockholm.
Ironis memang, sebagaimana sebelumnya ideologi Daud Beureueh lenyap ditelan zaman, kini ideologi Hasan Tiro pun telah berakhir.[]








