27.2 C
Banda Aceh
Sabtu, September 25, 2021

Ketika Tgk Yahya Muaz ke Markas Kami Tahun 2000

Oleh: Thayeb Loh Angen
Budayawan, Organisator, Mantan Kombatan GAM

Begitu mendengar kabar bahwa Tgk. Yahya Muaz meninggal, aku tertegun, terkesima, teringat peristiwa tahun 2000. Itu pertama kali aku dan kawan-kawan bertemu dengannya.

Dia terkenal di kalangan pejuang Aceh yang tergabung dalam organisasi bawah tanah, ASNLF (Aceh Sumatra National Liberation Front). ASNLF kemudian dikenal dengan sebutan GAM.

Saat itu, kami masih menyebut Gerakan tersebut sebagai ASNLF, baru tahun-tahun setelahnya media-media memasyhurkan sebutan GAM. Maka, dengan sendirinya sebutan ANLF berganti menjadi GAM di kalangan masyarakat dan pemerintah.

Walaupun pemerintah RI memiliki banyak sebutan untuk ASNLF sebelum itu, misalnya GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro), dan sebagainya. Saat itu juga dicoba masyhurkan sebutan TNA (Tentara Negara Aceh) dengan meniru TNI (Tentara Negara Indonesia), tetapi tidak berhasil.

Setelahnya, sebutan Gerakan Separatis Aceh juga dimunculkan, tetapi media lebih menyukai sebutan GAM, maka GAM menjadi sebutan de fato dengan ASNLF.

Pada masa itu, jabatan juru penerangan adalah jabatan penting dalam ASNLF yang tengah merangkul rakyat untuk dukungan politik dan anggota untuk pasukan militer dan sipil. Apalagi, juru penerangan tingkat Komando Pusat Tiro (komando pusat ASNLF), yang ditanggung oleh Tgk. Yahya Muaz.

Namun, kami tidak sempat memikirkan hal tersebut. Lagi pula ada candaan, ‘tentara dilarang berpolitik’. Memang, itu candaan bodoh. Saat itu kami, sekira 12 orang pemuda tengah mengikuti pelatihan polisi militer GAM, Daerah 1 (saat itu masih disebut Daerah IV) Wilayah Samudra Pase.

Dalam tahun-tahun itu, kami, para pejuang Aceh dari semua battalion, divisi, dan koorp, memiliki semangat yang lebih besar daripada tubuh kami yang masih muda. Seakan-akan, kami adalah pasukan dari sebuah negara yang berdaulat dan adidaya. Nyan perasaan droeneuh mantong (Itu hanya perasaanmu saja)

Namun, semangat itu pula diselingi kenyataan bahwa kami merasa ketakutan sepanjang waktu. Harapan, ketakutan, dan pengabdian pada perjuangan, silih berganti berkecamuk dalam diri. Tidak ada yang tahu, perasaan apa yang kemudian menang di dalam diri kami.

Polisi Militer ASNLF

Kelompok kami adalah adalah regu polisi militer GAM pertama di ASNLF yang dibentuk dan berhasil menjadi tim. Regu sebelumnya hilang tidak berbekas. Regu kami kemudian menjadi rujukan untuk regu lain yang dibentuk seluruh Aceh.

Regu kami terus ada, walaupun setelahnya beberapa kali berganti personil sampai GAM-RI menandatangani MoU pada 15 Agustus 2005 di Helsinki. Beberapa orang dari regu itu telah meninggal dunia, juga personil terakhir yang penggantinya, beberapa orang juga meninggal dunia.

Malam itu, ada pendidikan ideologi “Acehnesse Education”, dipandu oleh Tgk. Yahya Muaz. Aku tidak ingat lagi, berapa malam Tgk. Yahya Muaz mengisi pelajaran tersebut kepada kami.

Aku tidak yakin pula, apakah Tgk. Yahya Muaz hadir ke sana hanya untuk mengisi pelajaran untuk kami, atau sambilan keliling untuk memberikan pendidikan idiologi kepada pasukan di seluruh Aceh. Peristiwa dua puluh tahun lalu tersebut telah terlupakan, lagi pula saat itu, kami latihan fisik sepanjang hari dan pada waktu malam mendengarkan ceramah.

Parahnya lagi, aku tidak ingat lagi berapa lama kami latihan seperti itu, apakah sebulan atau tiga bulan. Namun, sepertinya Tgk. Yahya Muaz datang khusus untuk mengajarkan kami, karena kami adalah kamp yang disiapkan untuk pendidik, bukan untuk petempur, dan regu pertama di Aceh dari koorp kecil itu.

Yahya Muaz
Almarhum Tgk. Yahya Muaz. @tribunnews.com

Oleh karenanya, kami butuh pengetahuan sejarah, sosiologi, dan politik yang lebih baik daripada anggota ASNLF lainnya yang seangkatan.

Tahun-tahun itu, pikiranku tengah ‘diinstal’ dengan iodeologi baru. Kami bahkan tidak tahu lagi penanggalan Masehi, semuanya dihitung dengan tahun Hijriyah dan ditulis dalam Bahasa Aceh berdiakritik.

Secara tertutup, dalam beberapa tahun itu, kami memiliki ‘negara sendiri’ dengan sistem yang independen. Kami menyebutnya, ‘wilayah meudeelat’ (wilayah berdaulat).

Struktur

Struktur Pemerintahan Aceh versi ASNLF (GAM)

Tingkat Negara

Kepala Negara: Wali Neugara, saat itu Hasan Tiro
Kepala Pemerintahan: Perdana Mentri, saat itu Malik Mahmud
Pemimpin Militer: Panglima Komando Pusat

Tingkat Propinsi (Wilayah)

Kepala Wilayah-Pemerintahan Sipil: Gubernur
Pemimpin militer: Panglima Wilayah

Tingkat Daerah (Kabupaten/Kota)

Kepala Daerah-Pemerintahan Sipil: Tidak ada, karena tingkatan ini tidak ada dalam struktur Negara Aceh Darussalam, Cuma dibuat saja untuk mudah dibagi wilayah administrasi militer
Pemimpin militer: Panglima Muda

Tingkat Sagoe (Kecamatan)

Pemerintahan Sipil: Ulee Sagoe (Kepala Sagi)
Pemimpin militer: Panglima Sagoe

Tingkat Mukim (Mukim)

Pemerintahan Sipil: Imum Mukim
Pemimpin militer: Ulee Teuntra Mukim

Tingkat Gampong (Gampong/Desa)

Pemerintahan Sipil: Geuchik
Pemimpin militer: Ulee Teuntra Gampong

Struktur pemerintahan tersebut diadopsi dari Kesultanan Aceh Darussalam, setelah disesuaikan ulang, yaitu: di tingkat Negara, Kepala Negara dari Sultan menjadi Wali Neugara. Di tingkat wilayah dari seharusnya dipimpin oleh Raja (bukan sultan, karena sultan tingkat negara) menjadi dipimpin oleh gubernur. Ditambah di tingkat Daerah, wilayah administratif untuk militer di bawah Wilayah.

Karena itulah, menurut rumor yang berkembang saat itu, ketika orang daerah Nisam menuju kota, mereka dimintai ‘paspor’ oleh beberapa pihak. Tentu saja itu candaan.

Tempat latihan kami saat itu berada di Gampong Darussalam, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, disebut dengan nama Urong. Di seputaran itu ada pos (kamp) Amad Blang, Syaridin, dan Pom (Polisi Militer GAM).

Yang menarik dari Tgk. Yahya Muaz, dia mampu menjelaskan ideologi ASNLF dengan lebih baik. Dia memahami sesuatu hal dengan teori, logika, dan contoh-contoh aktual, bukan dengan hinaan atau pembenaran. Hal itu jarang dimiliki juru penerangan GAM lainnya.

Apabila melihat dari garis turunannya, itu memang wajar. dia merupakan tokoh terpandang di dalam kalangan GAM. Almarhum merupakan kemenakan Wali Nanggroe, Tgk Hasan Muhammad di Tiro atau sering disebut Tgk Hasan Tiro (kami menyebutnya Wali Neugara Aceh Sumatra).

Tgk Yahya Muaz

Semasa hidupnya, Tgk Yahya Muaz mendapat didikan langsung dari Hasan Tiro tentang idiologi Aceh Merdeka saat berada di dalam wilayah hukum Kerajaan Swedia, Skandinavia, Eropa Utara.

Dalam beberapa tahun terakhir, almarhum tidak aktif lagi dalam politik. Dia menekuni penelitian tentang lumpur vulkanik di Aceh. Lumpur tersebut diolah menjadi obat-obatan dan kosmetik.

Menurut kabar, program tersebut kemudian dikembangkan pula oleh Roni Ahmad alias Abusyik, Bupati Pidie. Tgk. Yahya Muaz juga memiliki program lain berbasis teknologi agrobisnis di Kawasan tersebut.

Namun, dalam setahun terakhir, kesehatan Tgk. Yahya Muaz menurun dan dia tidak mendapat kepulihan sehingga ajal menjemputnya.

Dia telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya pada Sabtu, 4 September 2021, pukul 20.00 WIB. Maestro itu telah pergi dia menutup usia pada 58 tahun, di Gampong Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

Jenazahnya dibawa pulang ke Meunasah Jurong Kupula, Gampong Dayah Muara Garot, Mukim Garot/Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie. Setelah dishalatkan di Masjid At Taqwa Garot, dikebumikan di pekuburan keluarga di Meunasah Jurong Kupula, Gampong Dayah Muara Garot.

Selamat sang maestro, selamat jalan guru kami. Semoga Allah memberikanmu tempat terbaik.

Pemakaman Yahya Muaz
Pemakaman Yahya Muaz. @Istimewa

Tentang ASNLF dan MoU Helsinki

Aku memperhatikan tulisan MoU Helsinki. Di dalam MoU Helsinki, tidak disebutkan ASNLF, organisasi yang dideklarasikan oleh Hasan Tiro. Yang disebutkan adalah GAM tanpa kepanjangannya (Gerakan Aceh Merdeka).

Mungkin, hal itulah yang memberikan ruang kecil alasan bagi sekelompok anggota periode kedua ASNLF di luar negeri. Mereka menyuarakan kembali gerakannya dan menolak MoU Helsinki. Tentang hal itu, sebenarnya, alasan rekan senior tersebut masuk akal, tetapi tidak dapat diterima secara hukum internasional.

Hal itu disebabkan, orang-orang yang menadatangani MoU Helsinki adalah tokoh penggerak ASNLF dan kemudian Hasan Tiro sebagai deklaratornya pun pulang ke Aceh. Dalam sebuah Gerakan, kietetapan pempimpinlah yang dinilai, bukan pernyataan pengikut.

ASNLF

Oleh karena itu, apabila rekan-rekan menolak MoU Helsinki dan ingin meneruskan perjuangan serupa ide dari Yang Mulia Hasan Tiro, maka kalian para handai taulan sebaiknya memberikan nama lain untuk Gerakan tersebut, dengan konsep baru yang dimodifikasi.

Bek neupeuasap le bu sijek, tetapi neu taguen bu laen ngat meuasap (jangan dipanaskan lagi nasi yang mendingin, tetapi masaklah nasi lain yang baru).

Apabila rekan-rekan ingin berjuang kembali, maka harus turun tangan sendiri. Hasan Tiro diikuti oleh rakyat karena Yang Mulia turun sendiri, mendeklarasikan ASNLF di Gunong Alimon, bukan di New York, London, Tripoli, atau Stockholm.

Ironis memang, sebagaimana sebelumnya ideologi Daud Beureueh lenyap ditelan zaman, kini ideologi Hasan Tiro pun telah berakhir.[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Gayo Lues Tuan Rumah Pra-PORA Sepak Bola

BLANGKEJEREN - Kabupaten Gayo Lues  akan menjadi tuan rumah Pra-Pekan Olahraga Aceh (PORA) Cabang...

Palestina: Israel Haraus Tinggalkan Yerusalem Timur dalam 1 Tahun

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menuduh Israel menghancurkan prospek penyelesaian politik berdasarkan solusi dua negara  melalui permukiman di Tepi...

Saksikan Pacuan Kuda di Gayo Lues, Pengunjung Disuntik Vaksin, Dikasih Sembako

  BLANGKEJEREN - Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Gayo Lues menggelar latihan bersama...

Putri Bimbim Slank Mezzaluna Siap Go Internasional Lewat Lagu ‘In Situ’

Putri Bimbim Slank, Mezzaluna D'Azzuri mengikuti jejak sang ayah terjun di industri musik Indonesia. Bukan sebagai drummer,...

Berikan Pemahaman kepada Masyarakat Pentingnya Vaksinasi Covid-19

SABANG – Sekretaris Daerah Aceh, dr. Taqwallah M.Kes., menitipkan pesan kepada para kepala Puskesmas...

Aceh Hari Ini: Siasat Kawat Palsu Pemuda Atjeh Sinbun Untuk KNIL

Para pemuda pejuang Aceh di redaksi surat kabar Atjeh Sinbun membuat kawat palsu atas...

SMUR Minta Pemkab Aceh Utara Cabut Izin HGU PT SA

LHOKSEUMAWE – Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) bersama warga Kecamatan Simpang Keuramat, meminta Pemerintah...

Realisasi PAD Getah Pinus Gayo Lues Baru 14 Persen

BLANGKEJEREN – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gayo Lues dari bagi hasil getah...

Kabid Humas Polda Aceh: Khana Darasa Naswa Hanya Alami Sikosomatik

BANDA ACEH – Khana Darasa Naswa (12) siswi SMK Negeri 1 Lkokseumawe yang tumbang...

Tim Polyrobocom PNL Ikuti Kontes Robot Indonesia 2021

LHOKSEUMAWE - Tim  Polyrobocom Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) mengikuti ajang Kontes Robot Indonesia (KRI)...

Ganti Rugi Lahan Jalan Tol di Padang Tiji Dinilai Bermasalah

BANDA ACEH - Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol di Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten...

Orang Tua Siswi Korban Vaksin di Lhokseumawe akan Tempuh Jalur Hukum

LHOKSEUMAWE – Aji Usman (52) akan tetap menempuh jalur hukum, setelah Khana Darasa Naswa...

Ritual Pagi Hari Demi Kualitas Hidup

Pebisnis sekaligus penulis buku "The Miracle Morning", Hal Elrod, mengakui, bangun pada pagi hari...

Risiko Berat Mualaf Juan Berjuang Sembunyikan Islamnya

Juan Dovandi (19 tahun) masih terus berproses sebagai mualaf. Karena hingga saat ini dia...

Conor McGregor Bikin Onar dan Patah Kaki, Nasibnya Kini

Kabar terbaru disampaikan Presiden Ultimate Fighting Championship (UFC) Dana White. Hal ini soal nasib Conor...

Kemenag dan Dinas Dayah Persiapkan Hari Santri Nasional

BANDA ACEH - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dan Dinas Pendidikan Dayah Aceh...

Tak Layak Pakai, Delapan Ruang Belajar SMPN 1 Tanah Luas Direhab

LHOKSUKON – Delapan ruang belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Tanah Luas,...

Polisi Selidiki Kasus Dugaan Penyerobotan Lahan di Simpang Keuramat

LHOKSEUMAWE- Tim penyidik Polres Lhokseumawe melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan penyerobotan lahan antara masyarakat...

Jika Bitcoin Jadi Sangat Sukses, Ini Prediksi Miliarder Ray Dalio

NEW YORK - Pendiri hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater Associates, Ray Dalio memprediksi...

Premier Oil Andaman Cari Cadangan Migas Baru di Aceh

BANDA ACEH – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKSK) Premier Oil Andaman mencari cadangan minyak...
Butuh CCTV, dapatkan di ACEH CCTV. ALAMAT: Jln Tgk Batee Timoh lr Peutua II, Gampong (Desa) Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh. Kode Pos 23114. TLP/WA : 0822.7700.0202 (MUSRIADI FAHMI). Taqiyya Cake and Bakery, Tersedia: Brownies, Bolu pandan, Bolpis, Bolu minyak, Bolu Sungkish, Ade, Donat, Serikaya, Raudhatul Jannah (082269952496), Perum Gratama Residence No 5 Mibo Lhoong Raya Banda Aceh. Kunjungi Showroom Honda Arista. Jl. Mr. Teuku Moh. Hasan No.100, Lamcot, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23242. Hubungi: No Tlp/WA : 082236870608 (Amirul Ikhsan). Kunjungi Usaha Cahaya Meurasa/ Kue Kacang Alamat: Perumahan Cinta Kasih, Gampong (Desa) Neuheun, Kec. Masjid Raya, Aceh Besar. Tersedia Kue Malinda/Kacang dan Nastar. Hubungi TLP/WA: 085277438393 (Nurjannah) - Bimbel Metuah, Almt: Jl. Seroja No. 5, Ie Masen Kayee Adang, Ulee Kareng, Banda Aceh. HP/WA: 0823 6363 2969 (Ola). Instagram: @bimbelmetuah @metuah_privat