TAPAKTUAN – Sebanyak 65 pemakalah yang berasal dari perguruan tinggi dalam Provinsi Aceh maupun luar daerah mengisi Seminar Nasional Tekhnology Rekayasa (SNTR) ke-3 digelar Politeknik Aceh Selatan (Poltas) bekerja sama dengan Pemkab setempat di Gedung Rumoh Agam, Tapaktuan, Sabtu, 17 Desember 2016.
Para pemakalah tersebut berasal dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh sebanyak 29 paper, Universitas Samudra Langsa 9 paper, Poltas selaku tuan rumah 7 paper, Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh 6 paper, Politeknik Aceh 2 paper, Politeknik Negeri Lhokseumawe 3 paper, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan 7 paper dan STT Harapan Medan 3 paper.
SNTR ke-3 yang dibuka Bupati Aceh Selatan H. T. Sama Indra menghadirkan tiga pembicara utama masing-masing Kokok Haksono Dyatmiko Ketua Satuan Pelaksana Purat Pendirian dan Pengembangan Politeknik Kemenristek Dikti, Dr. Hendriko Direktur Politeknik Caltex Riau dan Bupati setempat.
Acara diikuti ratusan mahasiswa Poltas, aparatur pemerintah dan perwakilan masyarakat ini dihadiri pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh Selatan dan Sekretaris Daerah H. Nasjuddin serta pejabat Kepala SKPK. Juga dihadiri mantan Direktur PCR yang juga salah seorang pendiri Poltas, Ir. Saifuddin, Ketua Yayasan Politeknik Caltex Riau Robinar Djajadisastra, Kepala Unit Inkubator Bisnis Politeknik Manufaktur Negeri Bandung Dindin Sulaeman, Koordinator Divisi Program Beasiswa LPSDM Aceh Drs. Mawardi, Guru Besar Fakultas Teknik Unsyiah Prof. Dr. Khairil serta Wakil Koordinator LPSDM Aceh yang juga dosen pascasarjana Fakultas Ekonomi Unsyiah Dr. Said Musnadi sekaligus menjadi moderator acara tersebut.
Direktur Poltas Dr. M. Ilham Maulana dalam sambutannya mengatakan seminar tersebut merupakan kegiatan ilmiah yang rutin digelar setiap tahun. Kegiatan SNTR yang mengusung tema implementasi teknology rekayasa dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan tersebut sebagai bagian dari rangkaian acara untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Aceh Selatan pada tanggal 28 Desember 2016 mendatang. Ini juga suatu kegiatan yang tak terpisahkan dari penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi Poltas, katanya.
Ia mengharapkan hasil dari SNTR yang akan digabungkan menjadi suatu prosiding seminar nantinya dapat menjadi ide dan kreativitas yang mampu memberikan masukan dan inspirasi bagi pengembangan dunia pendidikan dan teknologi untuk kemajuan pembangunan Aceh Selatan ke depannya serta untuk memperkaya khasanah pengetahuan dan keilmuan dalam dunia pendidikan di Aceh.
Sementara Bupati Aceh Selatan T. Sama Indra mengatakan SNTR dalam rangka memeriahkan HUT ke-71 Aceh Selatan merupakan seminar nasional ketiga yang telah digelar Poltas bersama Pemkab setempat. Seminar nasional pertama telah dilaksanakan tahun 2014 lalu dalam memeriahkan HUT ke-69 Aceh Selatan. Seminar tersebut telah mendapat penghargaan International Standard of Serial Number (ISSN) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ujarnya.
Bupati mengatakan, Poltas yang didirikan 11 November 2010 sesuai izin Mendiknas Nomor : 167/D/0/2010 yang dikelola Yayasan Poltas sesuai SK Menkum HAM nomor : AHU-2962.AH.01.04 tahun 2010 merupakan satu-satunya pendidikan vokasi di wilayah pantai barat selatan Provinsi Aceh yang mencakup 8 kabupaten/kota yakni Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Subulussalam dan Aceh Singkl serta beberapa kabupaten di Sumatera Utara yang berbatasan dengan Aceh Selatan.
Menurut Bupati, Aceh Selatan merupakan salah satu daerah di Provinsi Aceh yang berdiri sejak tahun 1945 silam letak dan posisi geografisnya berada diperbatasan terluar karena berbatasan langsung dengan perairan laut negara luar seperti India, Srilangka dan Thailand.
Daerah tersebut, kata Sama Indra, memiliki sumber daya alam cukup besar khususnya dari sektor pertambangan seperti emas, batubara, granit atau marmer, bijih besi dan tembaga. Selain itu daerah tersebut juga kaya kandungan sumber daya alam dari sektor perikanan dan perkebunan seperti ikan karang kualitas ekspor, sawit, nilam dan pala.
Karena itu, melalui seminar tersebut diharapkan akan lahir ide-ide baru dalam pengelolaan hasil sumber daya alam dengan cara memicu lahirnya pabrik industri baru berbasis potensi daerah.
Kami mengharapkan seminar ini dapat menjadi forum untuk berdiskusi dan pertukaran informasi antar para peneliti dan praktisi yang sudah berpengalaman berkecimpung didunia industri dengan pemerintah daerah maupun dengan masyarakat yang mengaplikasikan teknology rekayasa. Sehingga akan lahir gagasan-gagasan baru yang sejalan dengan visi dan misi pemerintah daerah serta bermanfaat sebagai masukan yang kelak akan dibahas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), tandasnya.[]
Laporan Hendrik





