BLANGPIDIE – Harga Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) masih di bawah kewajaran, yakni Rp.720/kg. Sementara harga pliek-U (patarana) mencapai Rp50 ribu/kg.
“Harga pliek-U ditampung pedagang pasar saat ini sudah mencapai Rp50 ribu/kg. Kalau harga encerannya Rp60 ribu/kg,” kata salah seorang pedagang di Pasar Inpres Blangpidie, M. Adam kepada wartawan, Senin, 8 Oktober 2018.
Adam mengatakan, tingginya harga pliek-U di Abdya karena pasokan dari pedesaan selama ini sangat terbatas. Sementara permintaan ampas kelapa yang telah dibusukkan tersebut semakin meningkat.
“Hampir tiap hari warga membelinya untuk kebutuhan bahan dasar kuah pliek-U. Masakan sejenis gulai dari beragam sayur-sayuran dicampur patarana itu salah satu makanan khas, baik di rumah makan maupun pada acara pesta,” ujar Adam.
Adam menjelaskan, selain untuk kebutuhan kuliner, pliek-U juga dapat dipergunakan sebagai bumbu utama rujak mengkudu, dan masih banyak penganan khas lainnya yang dibuat dari patarana tersebut. Itulah sebabnya harga pliek-U semakin mahal.
Sementara itu, petani kelapa sawit rasa kecewa sebab harga TBS di tingkat masyarakat sejak beberapa bulan terakhir masih tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah.
“Pemerintah Aceh telah menetapkan harga yang layak, tapi pedagang masih menghargai komoditi petani sesuka hatinya. Buktinya, harga pembelian sawit di lapangan masih di kisaran Rp. 650 – 720/ kg,” kata M.Yusuf, petani sawit di Desa Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Abdya.
“Cukup murah harga sawit di Abdya ini, jauh lebih mahal harga pliek-U,” ucapnya.
Dia menyebutkan, harga TBS dibeli oleh pedagang pengumpul di Kecamatan Tangan-Tangan saat ini berkisar Rp650 – 700/kg.
“Berbeda dengan harga TBS yang dibeli oleh pedagang di Kecamatan Kuala Batee, dan Babahrot. Di sana harga sawit di tingkat petani dibeli oleh pedagang Rp850-900/ kg,” ujarnya.[](Suprian)

