Oleh: Khairul Hidayati
Abi..
Ketika aku melihatmu Abi..
Entah kenapa terpancar dari wajah teduhmu ketenangan nan elok
Terbesit di balik senyum keindahanmu..
Abi..
Ketika detak jantungku mulai berdetak membahana dan terasa akan berhenti
Saraf dalam tubuhku mulai merasakan sakit yang tidak akan terobati
Abi..
Denyut nafas dalam jiwaku mulai terasa berhenti,,
Maka, hanya kalimat maaf yang masih terlantun lembut
Dari lubuk hati kecilku ini
Untukmu seorang Abi penuh kasih dan cinta,
Yang pernah memberikanku kecupan di pipi dan hati
Abi…
Jika jarak dapat aku lipat, waktu yang berjalan tidak begitu cepat
Maka kuputuskan untuk segera mendapat arti seorang sahabat
Dari senyuman seorang Abi hebat
mengajarkanku kebaikan tanpa pamrih
Abi…
Yang kukenal dia bukan dari martabat
Tapi belaian tangannya yang bersahabat
Apa yang seharusnya aku lakukan jika aku bersalah padamu
Abi…
Aku tau bahwa hatimu lebih indah dari sekuntum mawar merah dan lebih mahal
Dari permata yang berwarna biru
Dan seulas senyum yang senantiasa menghiasi wajah teduhmu
Abi…
Adalah hal yang sangat indah dan senantiasa teringat olehku dalam kesendirianku
Tetapi apakah kau tau, ketika aku berucap bahwa aku bersalah padamu
Maka angin, langit dan awan biru semua membisu
Abi..
Akupun hanya berharap maaf dari hati ikhlasmu…
Sesungguhnya maafmu adalah pelangi terindah yang pernah aku miliki
Dalam hidupku di tempat singgahku, yaitu hatiku..
Kumohon doa dan senyuman untuk Abi
Di dunia dan akhirat..
Semoga Abi dapat bersama kami di surga Jannatun Na'im..
*Santriwati Kelas IV-e, Dayah Putri Muslimat Samalanga




