Karya: Zahraini Zainal,
Dosen Universitas Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh.

Aku tidak tahu kapan tepatnya
nama Taufiq Ismail
menjadi gema
yang tak henti memantul di dadaku

mungkin sejak pertama aku mengerti
bahwa kata
bukan sekadar bunyi
melainkan luka yang mencari jalan pulang

kauajarkan aku
bahwa puisi tidak harus indah
cukup jujur
cukup berani menyebut
apa yang sering disembunyikan dunia

di setiap langkahku
ada suara yang menegur pelan:
“jangan kaukhianati hatimu sendiri”

dan aku gemetar
sebab ternyata
yang paling sulit dilawan
adalah diam
yang pura-pura tidak tahu

aku menaruh batinku padamu
pada jejak kata Taufiq Ismail
yang tak lelah menyala
di tengah gelap yang berulang

bukan untuk memuja
tapi untuk belajar mendengar

bahwa di balik riuh zaman
masih ada suara kecil
yang bersikeras hidup:
suara manusia
yang ingin tetap menjadi manusia.

Taman Sari Gunongan, 27 April 2026.[]